06 Juni, 2011

Ringkasan IPS

INDONESIA PADA MASA HINDU BUDHA SERTA PENINGGALANNYA

Hindu

Agama Hindu-Budha berasal dari Negara India. Hindu merupakan perpaduan agama bangsa Arya (Asia Tengah) dan Dravida. Kata Hindu berasal dari kata Shindu (Bahasa Sanskerta) yang berarti sungai. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab suci Weda (terdiri atas 4 kitab), Brahmana (merupakan tafsir dari kitab Weda), dan Upanisad (memuat dasar-dasar filsafat hubungan antara manusia dan Tuhan).

Weda berasal dari kata Vid = tahu. Weda/Veda = pengetahuan suci. Kitab ini ditulis bangsa Arya pada 3000 SM. Dewa-dewa utama dalam Hindu ialah Dewa Trimurti (kesatuan tiga dewa). Ketiga dewa tersebut beserta tugasnya ialah:

1. Dewa Brahma : Menciptakan alam semesta dan mengatur segala peristiwa di dunia. Kendaraannya berupa angsa.

2. Dewa Wisnu : Memelihara alam semesta. Kendaraannya seekor burung garuda.

3. Dewa Syiwa : Perusak semua yang tidak lagi berguna di alam. Kendaraannya lembu.

Pendeta dalam agama Hindu bernama Brahmana. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:

1. Widhi Tattwa: percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya.

2. Atma Tattwa: percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk.

3. Karmaphala Tattwa: percaya adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan.

4. Punarbhawa Tattwa: percaya adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi).

5. Moksa Tattwa: percaya bahwa kebahagiaan tertinggi adlh tujuan akhir manusia.

Dalam masyarakat Hindu, dikenal lima kasta atau kelas, yaitu:

1. Brahmana: terdiri atas pemimpin agama atau pendeta

2. Ksatria: terdiri atas para bangsawan, raja dan keturunannya, serta prajurit-prajuritnya

3. Waisya: terdiri atas pengusaha dan pedagang

4. Sudra: terdiri atas para petani dan pekerja kasar

5. Paria: terdiri atas gelandangan (orang yang haram untuk disentuh)

Tempat suci umat Hindu antara lain kota Benares yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Syiwa. Sungai Gangga dianggap keramat dan suci karena air sungai Gangga dianggap dapat mensucikan abu jenazah yang dibuang ke dalamnya. Hari raya umat Hindu ialah Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Nyepi, dan Siwaratri.

Budha

Agama ini muncul sebagai reaksi masyarakat terhadap kaum Brahmana yang dianggap terlalu berlebihan dalam menjalankan tugas dan fungsi mereka. Agama Budha didasarkan pada ajaran Sidharta Gautama. Sidharta Gautama digelari Sang Buddha (orang yang mendapat pencerahan) setelah bertapa di tengah hutan.

Agama Budha tidak mengakui pembagian kasta. Penderitaan dapat dihentikan dengan cara menindas trisna (nafsu). Nafsu dapat ditindas melalui delapan jalan (astavidha), yaitu pandangan (ajaran) yang benar, niat atau sikap yang benar, berbicara yang benar, berbuat atau bertingkah laku yang benar, penghidupan yang benar, berusaha yang benar, memerhatikan hal-hal yang benar, dan bersemedi yang benar.

Pemeluk agama Budha wajib melaksanakan tiga ikrar (Tri Ratna), yaitu: berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dharma (ajaran) agama Budha, dan berlindung kepada Sanggha (perkumpulan) masyarakat pemeluk agama Budha. Kitab suci agama Budha ialah Tripitaka (Tiga Keranjang) yang terdiri atas Vinayapitaka (berisi bermacam-macam aturan hidup dan hukum penentu cara hidup pemeluknya), Sutrantapitaka (berisi pokok-pokok wejangan Sang Buddha), dan Abdhidharmapitaka (berisi penjelasan dan kupasan mengenai sosial beragama atau falsafah agama). Umat Budha merayakan Hari Raya Triwaisak, yang merupakan peringatan kelahiran, menerima bodhi, dan wafatnya Sang Budha yang bertepatan dengan saat bulan purnama pada bulan Mei.

Agama Buddha terbagi atas dua aliran. Pertama, Mahayana : Untuk mencapai Nirwana dilakukan dengan mengembangkan sikap kebijaksanaan dan sifat welas asih. Kedua, Hinayana : Untuk mencapai Nirwana sangat bergantung pada usaha diri melakukan meditasi.

Puncak kejayaan agama Budha pada zaman kekuasaan Raja Asoka (273-232 SM) yang menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara. Tempat-tempat suci umat Buddha antara lain Bodh-Gaya, tempat bersemedi Sidharta Gautama.

Agama Hindu-Budha memberikan pengaruh antara lain :

· Bidang Sosial (muncul kerajaan Hindu-Budha).

· Teknologi (arsitektur candi, yupa, dan prasasti). Candi bercorak Hindu: Candi Prambanan dan Candi Dieng. Candi bercorak Buddha: Candi Borobudur dan Candi Kalasan.

· Kesenian (bela diri kongfu, huruf Pallawa, bahasa Sanskerta, Kitab-kitab: Negarakertagama dan Bharatayudha). Hasil kesusastraan Indonesia yang sumbernya dari India, yaitu cerita Ramayana dan Mahabrata yang dijadikan lakon wayang.

· Pendidikan (“Universitas” di Sriwijaya guna belajar agama Budha).

Kerajaan Hindu-Budha dan peninggalannya di Indonesia

1) Kerajaan Kutai.

Berdiri pada 400 Masehi dan bercorak Hindu. Terletak di Kalimantan Timur di tepi sungai Mahakam. Raja pertama bernama Kudungga. Anaknya bernama Aswawarman. Anaknya Aswawarman bernama Mulawarman. Puncak kejayaan pada masa Mulawarman dengan memberikan hadiah 20.000 sapi kepada para Brahmana.

2) Kerajaan Tarumanegara

Berdiri pada abad ke-5 Masehi di daerah lembah sungai Citarum, Jawa Barat. Terdapat 7 prasasti yang memuat tentang Tarumanegara yaitu, P. Ciaruteun, P. Kebon Kopi, P. Jambu, P. Tugu, P. Lebak, P. Pasir Awi, dan P. Muara Cianten.

3) Kerajaan Ho-Ling

Keberadaan kerajaan ini diketahui dari kitab sejarah Dinasti Tang (618-906). Kerajaan ini diperkirakan terletak di Jawa Tengah. Dalam berita Cina disebut adanya Ratu His-mo atau Sima (674 M), yang terkenal sebagai raja yang tegas, jujur, dan bijaksana.

4) Kerajaan Sriwijaya

Kata Sriwijaya berasal dari kata sri = mulia, dan wijaya = kemenangan. Berdiri pada abad ke-7 M dengan berpusat di Palembang. Puncak kejayaannya pada masa Raja Balaputradewa. Pada masa ini Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dunia di Asia Tenggara dan pusat perkembangan agama Budha. Ia juga mendirikan universitas Nalanda.

Prasasti yang memuat tentang kerajaan Sriwijaya antara lain, P. Talang Tao (684), P. Kedukan Bukit (688), P. Karang Berahi, Jambi (686), P. Kota Kapur, Bangka (686), P. Ligor di Genting Kra (775), P. Telaga Batu.

Sriwijaya mulai mengalami kemunduran setelah diserang oleh Dharmawangsa (992), ajendra Coladewa dari Kerajaan Colamandala (1023, 1030, dan tahun 1060), Kertanegara (1275), dan Gajah Mada (1377). Sriwijaya akhirnya hancur ketika Majapahit mulai berkembang di Jawa.

5) Kerajaan Mataram Kuno

Berdiri sekitar abad ke-7 M, terletak dipedalaman Jawa Tengah, antara Kedu sampai Prambanan. Selain prasasti, informasi tentang Mataram Kuno ini diperoleh melalui candi-candi, kitab cerita Parahyangan (Pasundan), dan berita Cina.

Raja pertama bernama Sanna. Penggantinya bernama Sanjaya, yang menjadikan rakyatnya hidup makmur. Selain Sanjaya, ada dinasti lain yang lebih besar yaitu Dinasti Syailendra. Keluarga Sanjaya beragama Hindu dan keluarga Syailendra beragama Budha. Setelah Sanjaya, Mataram kemudian diperintah oleh Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.

6) Kerajaan Kediri dan Singosari

Raja Kediri yang terkenal ialah Jayabaya (1130-1160) yang terkenal dengan Ramalan Jayabaya. Raja terakhir Kediri ialah Kertajaya. Pada masa pemerintahannya, Kertajaya ingin dihormati dan disembah seperti dewa. Hal ini membuat para Brahmana tidak senang dan mereka minta perlindungan kepada Ken Angrok (sering disebut Arok) dari Tumapel. Ken Arok akhirnya dapat mengalahkan Kertajaya pada tahun 1222. Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Kediri. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singosari.

Keberadaan Kerajaan Singosari diketahui dari kitab Pararaton dan kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca. Sejarah Singosari dimulai dengan tindakan Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, akuwu di Tumapel. Ken Arok yang beristrikan Ken Umang kemudian menikahi istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Ken Dedes diramalkan akan menurunkan raja-raja besar. Ken Arok kemudian dibunuh oleh Anusapati (anak tirinya). Anusapati memerintah selama 21 tahun, 1227-1248. Kemudian, Tohjaya, anak Ken Arok dan Ken Umang, membunuh Anusapati pada tahun 1248. Wisnuwardhana, anak dari Anusapati, membunuh Tohjaya dan memerintah sampai tahun 1268. Wisnuwardhana kemudian digantikan oleh Kertanegara.

Pada masa Singosari, Ken Arok telah mengembangkan perekonomian rakyatnya. Kehidupan masyarakatnya aman dan sejahtera. Ken Arok membuat patung Ken Dedes dan beberapa candi.

7) Kerajaan Majapahit

Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singosari. Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja pada tahun 1293. Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jaya Wardana (1293 1309 M). Ia adalah raja yang bijaksana. Pemberontakan terjadi pada masa raja Jayanegara atau Kala Gemet, pengganti Raden Wijaya.

Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa Raja Hayam Wuruk, dengan didampingi Mahapatih Gajah Mada. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa, Nusa Tenggara, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Malaka, dan Tumasik (Singapura) serta Papua Barat.

Sebagai kerajaan besar, Majapahit mengalami kemajuan hampir di semua bidang. Di bidang pemerintahan, Majapahit memiliki dewan Bhattara Saptaprabhu (sesepuh kerajaan), Rakayan Mahamantri Katrini (mahamentri, yang adalah putra-putra Raja), dan Rakayan Mantri ri Pakirakiran (dewan menteri) yang membantu Raja. Di bidang keagamaan, Majapahit telah memberikan contoh kerukunan hidup beragama yang baik. Hayam Wuruk beragama Hindu Siwa, sedangkan Gajah Mada beragama Buddha. Perbedaan ini oleh Mpu Tantular dikatakan sebagai Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa (di antara pusparagam adalah kesatuan dan tak ada agama yang mendua).

Majapahit mundur karena beberapa hal berikut.

a. Tidak ada tokoh pengganti yang berwibawa sesudah Hayam Wuruk (1389 M) dan Gadjah Mada (1364 M).

b. Perang Paregreg (1401 M-1406 M), yakni perang saudara di antara para pewaris kerajaan, antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana

c. Banyak negeri bawahan Majapahit yang berusaha melepaskan diri.

d. Berkembangnya agama Islam di pesisir pantai utara Pulau Jawa telah mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.

8) Kerajaan Pajajaran

Kerajaan ini didirikan pada tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak. Bercorak Hindu dengan beribukota di pakuan, Bogor.

Prasasti yang ditemukan : Prasasti Batu Tulis, Bogor ; Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi; Prasasti Kawali, Ciamis; Tugu Perjanjian Portugis (padraƵ), Kampung Tugu, Jakarta; dan Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor. Adapun raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran ialah Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), Surawisesa (1521 – 1535), Ratu Dewata (1535 – 1543), Ratu Sakti (1543 – 1551), Raga Mulya (1567 – 1579).

Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Ketika Banten menyerang Pajajaran, diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat. Mereka inilah yang sekarang dikenal sebagai orang Baduy.

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA SERTA PENINGGALANNYA

Islam masuk ke Indonesia melalui pada pedagang Gujarat, Arab, dan Persia. Selain berdagang, mereka juga mengenalkan agama dan budaya Islam di Indonesia.

Proses penyebaran Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran para pedagang, Bandar (pelabuhan), dan para Wali/ulama. Para Wali dan Ulama berdakwah dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dimasuki ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

Di pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Wali Songo, yaitu : Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Derajat (Syarifudin), Sunan Bunang (Makdum Ibrahim), Sunan Kalijaga (Raden Mas Said), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Kudus (Jafar Sodiq), Sunan Muria (Raden Umar Said), dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Ada beberapa teori atau pendapat tentang kapan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu :

1) Abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman Dinasti Tang.

2) Abad ke 13 berdasarkan catatan perjalanan Marcopolo yang singgah di Perlak, bagian utara Sumatera.

3) Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik.

4) Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam kuno.

5) Di Sulawesi, Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo.

6) Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Kerajaan bercorak Islam di Indonesia :

1. Kerajaan Perlak (840 – 1292 M)

Merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M). Kemajuan pesat terutama terjadi dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah.

2. Kerajaan Samudera Pasai (Abad ke-13)

Pendirinya Sultan Malik Al-Saleh, yang meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam. Terletak di pantai timur Aceh. Pada masa Sultan Malik al Tahir II (1326 - 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Tahun 1522 kerajaan ini runtuh dan dikuasai Portugis.

3. Kerajaan Aceh

Pendirinya adalah Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: (1) pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan (2) pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.

Pada sekitar abad ke-16 dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari Singkil. Keempat ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.

Salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang terkenal ialah Masjid Raya Baiturrahman.

4. Kerajaan Demak dan Pajang

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Pendirinya adalah Raden Patah (1500-1518) yang bergelar Sultan Alam Akhbar al Fatah.

Dari Demak, Islam disiarkan ke berbagai daerah pantai utara Jawa Barat (Cirebon, Sundakelapa, Pakuan, dan Banten) dan pantai utara Jawa Timur (Tuban, Giri, Surabaya, Madura dan Pasuruhan). Di bidang keagamaan, Raden Patah dan dibantu para wali, Demak tampil sebagai pusat penyebaran Islam. Raden Patah kemudian membangun sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Demak.

Kerajaan Pajang merupakan kelanjutan dari kerajaan Demak yang diboyong oleh Jaka Tingkir (bergelar Sultan Hadiwijaya) ke Pajang. Pangeran Benowo (putra Hadiwijaya) kemudian menyerahkan kerajaan kepada Sutawijaya (anak angkat Hadiwijaya) karena telah membantu memadamkan pemberontakan. Setelah itu kemudian Sutawijaya memindahkan pusat kerajaan Pajang ke Mataram.

5. Kerajaan Mataram

Pada masa pemerintahan Sultan Agung terdapat pembagian system pemerintahan :

a. Kutanegara, daerah pusat keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang dibantu Wedana Lebet (Wedana Dalam).

b. Negara Agung, daerah sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan dipegang Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).

c. Mancanegara, daerah di luar Negara Agung. Pemerintahan dipegang oleh para Bupati.

d. Pesisir, daerah pesisir. Pemerintahan dipegang oleh para Bupati atau syahbandar.

Kehidupan sosial ekonomi Mataram cukup maju. Sebagai kerajaan besar, Mataram maju hampir dalam segala bidang, pertanian, agama, budaya. Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul kebudayaan Kejawen, gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam, misalnya upacara Grebeg, Sekaten. Karya kesusastraan yang terkenal adalah Sastra Gading karya Sultan Agung. Pada tahun 1633, Sultan Agung mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari dengan tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.

6. Kerajaan Banten

Merupakan kerajaan yang melepaskan diri dari kerajaan Demak. Rajanya bernama Sultan Hasanudin (1522-1570). Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan selain karena letaknya sangat strategis, Banten juga didukung oleh beberapa faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) sehingga para pedagang muslim berpindah jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor lainnya, Banten merupakan penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di pasaran dunia. Runtuhnya kerajaan banten disebabkan karena perang saudara, yaitu antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang bernama Sultan Abdulkahar (Sultan Haji)

7. Kerajaan Cirebon

Didirikan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1679, irebon terpaksa dibagi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Dengan politik de vide at impera yang dilancarkan Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di Cirebon, kasultanan Kanoman dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir abad ke-17.

8. Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan: Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makasar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makasar.

Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-1669). Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan Makassar baik ke atas sampai ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan. Tata kehidupan yang tumbuh di Makassar dipengaruhi oleh hukum Islam. Kehidupan perekonomiannya berdasarkan pada ekonomi maritim: perdagangan dan pelayaran.

9. Kerajaan Ternate dan Tidore

Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500), yang juga murid Sunan Giri. Mulanya Ternate dan Tidore hidup berdampingan. Namun setelah diadu domba Portugis, keduanya menjadi sering bertikai. Ternate menjadi sekutu Portugis. Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua kerajaan membaik kembali.

Dengan masuknya Spanyol dan Portugis ke Maluku, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Maluku jadi beragam: ada Katolik, Protestan, dan Islam. Pengaruh Islam sangat terasa di Ternate dan Tidore. Pengaruh Protestan sangat terasa di Maluku bagian tengah dan pengaruh Katolik sangat terasa di sekitar Maluku bagian selatan.

Peninggalan-peninggalan sejarah bercorak Islam

1. Peninggalan dalam bentuk bangunan, yaitu masjid, istana/keraton, dan makam/nisan.

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid, yaitu :

a. Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

b. Masjid Demak (dibangun para wali)

c. Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

d. Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)

e. Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

f. Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di Kalteng)

g. Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk makam yaitu :

a. Makam Sunan Langkat (di halaman dalam masjid Azisi, Langkat)

b. Makam Walisongo

c. Makam Imogiri (Yogyakarta)

d. Makam Raja Gowa

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk nisan yaitu :

a. Di Leran, Gresik (Jawa timur) terdapat batu nisan bertuliskan bahasa dan huruf Arab, yang memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 Hijriah (1082 M);

b. Di Sumatra (di pantai timur laut Aceh utara) ditemukan batu nisan Sultan Malik alsaleh yang berangka tahun 696 Hijriah (!297 M);

c. Di Sulawesi Selatan, ditemukan batu nisan Sultan Hasanuddin;

d. Di Banjarmasin, ditemukan batu nisan Sultan Suryana Syah; dan

e. Batu nisan di Troloyo dan Trowulan.

2. Peninggalan dalam bentuk Karya Seni, yaitu seni ukir (pada masjid-masjid di Jepara), seni pahat, seni pertunjukan (rebana dan tarian), seni lukis, dan seni sastra.

Salah satu peninggalan Islam yang cukup menarik dalam seni tulis ialah kaligrafi. Kaligrafi adalah menggambar dengan menggunakan huruf-huruf arab. Kaligrafi dapat ditemukan pada makam Malik As-Saleh dari Samudra Pasai.

Karya sastra yang dihasilkan cukup beragam diantaranya : syair, hikayat, suluk, babad, dan kitab-kitab. Syair banyak dihasilkan oleh penyair Islam, Hamzah Fansuri. Karyanya yang terkenal adalah Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung Pangi, dan Syair Si Dang Fakir. Syair-syair sejarah peninggalan Islam antara lain Syair Kompeni Walanda, Syair Perang Banjarmasin, dan Syair Himop. Syair-syair fiksi antara lain Syair Ikan Terumbuk dan Syair Ken Tambunan.

Hikayat adalah karya sastra yang berisi cerita atau dongeng yang sering dikaitkan dengan tokoh sejarah. Peninggalan Islam berupa hikayat antara lain, Hikayat Raja Raja Pasai, Hikayat Si Miskin (Hikayat Marakarma), Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Jauhar Manikam.

Suluk adalah kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Peninggalan Islam berupa suluk antara lain Suluk Wujil, Suluk Sunan Bonang, Suluk Sukarsa, Suluk Syarab al Asyiqin, dan Suluk Malang Sumirang.

Babad adalah cerita sejarah tetapi banyak bercampur dengan mitos dan kepercayaan masyarakat yang kadang tidak masuk akal. Peninggalan Islam berupa babad antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Sejarah Melayu (Salawat Ussalatin), Babad Raja-Raja Riau, Babad Demak, Babad Cirebon, Babad Gianti.

Adapun kitab-kitab peninggalan Islam antara lain Kitab Manik Maya, Us-Salatin Kitab Sasana-Sunu, Kitab Nitisastra, Kitab Nitisruti, serta Sastra Gending karya Sultan Agung.

Tidak ada komentar: