06 June, 2012

Pelapisan Sosial



Dalam suatu lingkungan masyarakat sering dijumpai beragam profesi dan pekerjaan warganya. Contoh beberapa pekerjaan yang biasa ditemukan ialah petani, pedagang, sopir, guru, dokter, dan sebagainya. Adanya beragam pekerjaan tersebut dan penghargaannya di tengah masyarakat secara tidak langsung menimbulkan tingkatan status yang berbeda-beda. Dan dari situ kemudian muncullah istilah pelapisan sosial.

A.    Pengertian
Pelapisan sosial atau biasa juga disebut stratifikasi sosial berasal dari kata stratus yang artinya lapisan (berlapis-lapis), sehingga stratifikasi sosial berarti “lapisan masyarakat”.[1] Sedangkan secara istilah (terminology) menurut Robert M.Z. Lawang, pelapisan membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda dalam struktur hierarkis yang didasarkan pada faktor kekuasaan, hak istimewa (priveles), dan prestise. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam lapisan sosial yang dimilikinya, maka semakin tinggi pula status sosialnya.

B.     Sebab-sebab terjadinya Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya sesuatu yang dihargai seperti harta atau benda-benda lainnya.[2] Sesuatu yang dihargai dimasyarakat bisa berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, status haji, status keturunan ataupun berdasarkan tingkat ekonomi.
Selanjutnya pelapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi ada pula yang sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Pelapisan soaial yang terjadi dengan sendirinya ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Sistem sosial terbentuk di luar kontrol masyarakat yang bersangkutan.
2.      Sistem sosial terbentuk sejalan dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan.
3.      Sistem sosial yang terjadi sesuai dengan kondisi sosial budaya di wilayah yang bersangkutan.
4.      Posisi seseorang dalam suatu lapisan beserta hak dan kewajibannya berlangsung secara otomatis (terjadi dengan sendirinya).
Sementara pelapisan sosial yang sengaja dibentuk untuk suatu tujuan bersama misalnya perusahaan, partai politik, pemerintah, dan sebagainya. Dalam pelapisan sosial yang sengaja disusun, terdapat berbagai cara untuk menentukan kedudukan seseorang, antara lain:
1.      Upacara peresmian atau pengangkatan.
2.      Pemberian nama jabatan atau pangkat.
3.      Pemberian lambang atau tanda kedudukan.
4.      Sistem upah atau gaji berdasarkan golongan atau pangkat.
5.      Wewenang dan kekuasaan yang disertai pembatasan-pembatasan dalam pelaksanaannya.[3]

C.     Sifat Pelapisan Sosial
Dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:
1.      Pelapisan sosial terbuka
Yaitu pelapisan sosial yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berpindah dari satu lapisan sosial kelapisan sosial lainnya. Kelebihan dari pelapisan sosial terbuka adalah lebih dinamis (progresif), dan anggota-anggotanya mempunyai cita-cita hidup yang lebih tinggi. Sedangkan kelemahannya yaitu bahwa anggota-anggotanya mengalami kehidupan yang selalu tegang dan khawatir akibat status sosial yang dapat berubah kapan saja.
Contoh: masyarakat di negara industri maju dan telah mengalami gelombang modernisasi.
2.      Pelapisan sosial tertutup
Yaitu pelapisan sosial yang membatasi seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan lain. pelapisan tertutup bersifat statis, kurang menunjukkan cita-cita seseorang untuk maju dan hidup seolah-olah terkekang.[4]
Contoh: Pelapisan sosial pada masyarakat kasta dan feodal.
3.      Pelapisan sosial campuran
Yaitu pelapisan yang terjadi karena ada perpaduan antara pelapisan terbuka dan pelapisan tertutup.

D.    Fungsi Pelapisan Sosial dalam Masyarakat
1.      Menyusun alat bagi masyarakat dalam mencapai beberapa tugas utama, misalnya TNI.
2.      Menyusun, mengatur, serta mengawasi hubungan diantara anggota masyarakat.
3.      Pemersatu dan mengkoordinasikan serta mengharmonisasikan unit-unit yang ada dalam struktur sosial.
4.      Mengkategorikan manusia dalam struktur yang berbeda, sehingga dapat menyederhanakan dunia manusia dalam konteks saling berhubungan di antara mereka.


[1] Abu Ahmadi, Sosiologi (Surabaya: Bina Ilmu, 1985) hal. 91
[2] Agung Sasongko, Sosiologi SMA Kelas 2 (Jakarta: Pabelan, 2004) hal. 4
[3] Suharto, dkk., Tanya Jawab Sosiologi (Jakarta: Rineka Cipta, 1991) hal. 71
[4] Ibid., hal. 76

No comments:

Post a Comment