07 June, 2012

Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Studi Islam


Manusia hidup memiliki 2 (dua) peran sekaligus yaitu sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial. Kata “individu” berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas. Sementara itu sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, ia selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[1]

Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alaimin tidak hanya berorientasi pada hubungan vertikal melainkan juga horizontal. Sebab kesalihan manusia tidak hanya ditunjukkan oleh hubungan vertikal dengan Allah tetapi juga hubungan horizontal individu dengan individu lain. Bahkan dalam Al Qur’an sendiri lebih banyak dijelaskan hubungan antara sesama manusia ketimbang dengan Tuhannya (tauhid). Maka disinilah pentingnya mempelajari pendekatan-pendekatan ilmu sosial dalam memahami Islam khususnya studi Islam.

Pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam studi Islam ada beberapa yaitu, pendekatan Sosiologi, Antropologi, Jender, Sejarah, Semantik, Filologi, dan sebagainya. Namun kali ini hanya akan diangkat 2 pendekatan yaitu pendekatan sosiologi dan antropologi.

A.    Pendekatan Sosiologi

Sosiologi dalam pengertian secara luas adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan gejala sosial yang terjadi di masyarakat.[2] Sosiologi sebagai anak kandung modernitas lahir dalam rangka memahami kehidupan sosial dan bagaimana orang bertindak di dalamnya.

Pendekatan sosiologi dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama karena banyak dari kajian agama yang hanya dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan pendekatan sosiologi. Dalam buku “Islam Alternatif” karangan Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa Islam begitu memperhatikan masalah sosial, yang dibuktikan dalam hal-hal berikut:

1.      Al Qur’an sebagai sumber hukum Islam, antara ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah 1 : 100 (satu berbanding seratus).
2.      Ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam adalah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah waktunya bersamaan dengan urusan muamalah, maka muamalah lebih dipentingkan. Akan tetapi bukan berarti ibadah ditinggalkan.
3.      Ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan ganjarannya lebih besar dari pada ibadah yang bersifat perorangan. Contohnya saja sholat berjama’ah yang lebih banyak ganjarannya 27 derajat.
4.      Dalam Islam bila dalam urusan ibadah itu dilanggar atau tidak sempurna maka dendanya/takzirnya adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Salah satu contoh ialah apabila tidak kuat puasa maka menggantinya dengan memberi makan beberapa fakir miskin.

Berdasarkan pemaparan di atas maka pendekatan sosiologi merupakan alat yang cukup efisien dalam memahami dan mempelajari studi Islam. Adapun yang perlu diperhatikan dalam mempelajari studi Islam melalui pendekatan sosiologi, terletak pada fungsinya di dalam masyarakat.[3] Dilihat dari fungsinya dalam kehidupan manusia, agama dituntut untuk dapat merumuskan kembali (rekonstruksi) pemikiran-pemikirannya secara jelas dan sistematis agar dapat memanusiakan manusia agar lebih terarah.

Secara kuantitas setiap pemeluk agama Islam dituntut untuk mempunyai kesadaran sendiri dalam menentukan atau memilih agama yang dianutnya, yaitu dengan cara terlebih dahulu melakukan analisa dan kajian terhadap agama yang menjadi pilihannya. Tetapi kenyataan itu hanya dilakukan oleh kaum intelektual saja sedangkan kaum awam hanya sebagian kecil yang mempunyai kesangupan tersebut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa agama Islam mempunyai kualitas yang bagus tetapi penganutnya kurang atau bahkan tidak mempunyai kualitas. Cukup mengenaskan bukan?

Oleh karena itu studi Islam dalam endekatan sosiologi dipandang sangat penting untuk tercapainya pemahaman secara luas dan menyeluruh (kafah) terhadap studi Islam. Hal ini dilakukan khususnya agar masyarakat awam juga dapat menerapkan studi Islam dengan berkualitas.

B.     Pendekatan Antropologi

Antropologi secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan itu sendiri adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia.

Pendekatan antropologi dalam memahami studi Islam dapat dilihat dengan wujud praktik/ritual keagamaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Pendekatan antropologi dalam studi Islam maksudnya adalah pendekatan secara wajar yang digunakan dalam melakukan penelitian pendekatan budaya yang tidak menyalahi norma-norma yang berlaku dalam agama Islam. Islam tidak akan menerima begitu saja jenis pendekatan-pendekatan antropologi dalam memahami dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, karena Islam bersifat selektif.

Antropologi sebagai pendekatan dalam mempelajari studi Islam dapat diklarifikasikan menjadi beberapa bagian diantaranya:
1.      Pendekatan antropologis fenomenologis; pendekatan ini dapat melihat hubungan antara agama dan negara.
2.      Pendekatan antropologis yang kaitannya antara agama dengan psikoterapi.
3.      Pendekatan antropologis yang kaitannya antara agama dengan mekanisme pengorganisasian.

Dalam pengklarifikasian di atas, jelas bahwa agama sangat erat kaitannya dengan cabang-cabang ilmu antropologi, sehingga dalam hal ini agama dapat melakukan hubungan secara fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.

Melalui pendekatan antropologi dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak pernah berdiri sendiri, antropologi berupaya untuk dapat melihat hubungan antara agama dengan berbagai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan yang positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik.

Adapun metode yang digunakan melalui pendekatan antropologi adalah metode holistik, artinya dalam melihat suatu fenomena sosial harus diteliti dalam konteks totalitas kebudayaan masyarakat yang dikaji. Sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam (terjun langsung ke dalam masyarakat).


[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004) hal. 39
[3] Elizabeth K. Notingham, Agama dan Masyarakat, (Jakarta: Rajawali Pers) hal. 31

Anda mungkin juga ingin membaca :

- Pendekatan Ilmu Sosial dalam Studi Islam

No comments:

Post a Comment