26 Maret, 2009

Manajemen Peserta Didik

MANAJ EMEN PESERTA DIDIK DITINJAU
DARI RUANG LINGKUPNYA


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Pendidikan

Dosen Pengampu:
Drs. Misbah Ulmunir


PENDAHULUAN

Suatu system pendidikan dapat dikatakan bermutu jika proses belajar mengajarnya dapat berlangsung secara efektif dan efisien sehingga materi ajar yang akan disampaikan dapat sesuai dengan tujuan dan target yang telah ditetapkan. Proses pendidikan yang bermutu akan menghasilkan lulusan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Dan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu dalam hal ini tidak dapat terlepas dari bagaimana me-manage peserta didiknya.
Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas maka diperlukan manajemen yang dapat mengelola seluruh sumber daya dalam pendidikan. Manajemen itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan pelaksanaannya.
Peserta didik adalah salah satu dari komponen penting dalam pendidikan. Lebih dari itu peserta didik merupakan aset berharga suatu bangsa. Jika suatu bangsa ingin maju maka tergantung pendidikan yang diterapkan terhadap generasi mudanya. Oleh karena itu upaya pengoptimalkan peserta didik menjadi hal yang mutlak dilaksanakan.
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa banyak permasalahan-permasalahan pendidikan yang terkait dengan peserta didik. Hal ini sebagian disebabkan lantaran pengelolaan peserta didik yang tidak dijalankan secara optimal.
Untuk mengoptimalkan peserta didik tentu sebaiknya kita tahu dahulu pengertian dan lingkup manajemen peserta didik, sehingga dalam tindak lanjut / implikasi selanjutnya dapat lebih jelas dan tepat sasaran. Lalu sejauh mana lingkup dan permasalahan manajemen pendidikan yang terkait peserta didik itu.

Rumusan Masalah
Pengertian manajemen peserta didik.
Ruang lingkup manajemen peserta didik.
Beberapa masalah terkait manajemen peserta didik.


PEMBAHASAN

1. Pengertian
Manajemen
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa banyak sekali para ilmuwan yang mencoba mendefinisikan pengertian manajemen. Namun dari sekian banyak itu, terdapat beberapa persamaan sehingga kiranya dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian / pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
Manajemen peserta didik / siswa
Manajemen siswa adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah.[1] Pengertian masuk di sini adalah sejak siswa pertama kali mendaftar di suatu sekolah sampai ia lulus / keluar dari sekolah tersebut.
Manajemen peserta didik bisa juga berarti kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan hingga siswa tersebut lulus dari sekolah disebabkan karena tamat atau sebab lain.[2]
Bentuk manajemen siswa tidak hanya sekedar pencatatan data peserta didik, melainkan mencakup aspek yang lebih luas. Tujuannya untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan lancer, tertib, dan teratur, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

2. Ruang Lingkup Manajemen Peserta Didik / Siswa
Ruang lingkup / tugas manajemen kesiswaan menurut Mulyasa (Mulyasa, 2003) ada tiga, yaitu :
a. Penerimaan siswa baru
b. Kegiatan Kemajuan Belajar
c. Bimbingan dan pembinaan disiplin
Ada juga yang berpendapat Manajemen Kesiswaan meliputi antara lain: (1) Penerimaan Siswa Baru; (2) Program Bimbingan dan Penyuluhan; (3) Pengelompokan Belajar Siswa; (4) Kehadiran Siswa; (5) Mutasi Siswa; (6) Papan Statistik Siswa; (7) Buku Induk Siswa.[3]
Sedangkan menurut Suharsimi (Suharsimi, 2008), terdapat 4 (empat) kelompok pemanajemenan jika dilihat pada proses memasuki sekolah sampai siswa meninggalkannya, yaitu :
a. Penerimaan siswa
b. Ketatausahaan siswa
c. Pencatatan bimbingan dan penyuluhan
d. Pencatatan prestasi siswa.
a. Penerimaan Siswa Baru
Penerimaan siswa baru merupakan momen penting bagi sekolah, sebab dari sinilah titik awal kelancaran tugas sekolah ditentukan. Proses penerimaan siswa baru yang tidak ter-manage dengan baik akan berakibat buruk pada proses selanjutnya.
Misalnya seperti yang terjadi di Solo mengenai kekacauan pendaftaran siswa baru via internet. Maksud pemerintah baik, yaitu ingin mengefektifkaan proses pendaftaran melalui internet (IT). Namun karena tidak ter-nanage dengan baik, misalnya karena kurang ahlinya pemerintah terhadap masalah IT atau karena factor lain, maka yang terjadi bukan kelancaran melainkan kekacauan. Tentu saja kejadian ini menuai banyak protes dari kalangan masyarakat. Sebab dalam mengakses internet terjadi banyak kendala sehingga malah menjadi tidak efektif.[4]
Oleh karena itu penerimaan siswa baru tidak boleh dianggap enteng. Oleh karena itu untuk mengantisipasi atau mengurangi kemungkinan, gangguan dan hambatan-hambatan dalam penerimaan siswa baru, maka dibentuklah sebuah panitia. Panitia di sini sifatnya sementara. Jadi setelah proses penerimaan siswa baru selesai, maka kepanitiaan dibubarkan. Untuk ketua panitianya sendiri bisa kepala sekolah itu sendiri atau guru lain sesuai kesepakatan dewan dalam sebuah rapat kepanitiaan.
Adapun untuk tugas-tugas panitia penerimaan siswa baru (Suharsimi, 2008) yaitu :
1. Menentukan bayaknya siswa yang diterima
Jumlah banyaknya siswa yang akan diterima menyesuaikan dengan kuota ruang kelas yang tersedia. Dan siswa yang diterima biasanya untuk kelas satu saja. Namun jika sekolah menginginkannya, maka bias saja menerima siswa untuk kelas dua dan tiga.
2. Menentukan syarat-syarat penerimaan siswa baru
Persyaratan dibagi menjadi dua yaitu persyaratan umum dan persyaratan khusus. Persyaratan umum adalah persyaratan yang biasa berlaku hamper untuk semua sekolah sejenis dan setingkat. Sedangkan persyaratan khusus adalah persyaratan yang hanya berlaku untuk suatu sekolah. Misalnya, untuk STM harus laki-laki, untuk dokter tidak boleh buta warna, dan sebagainya.
3. Melaksanakan penyaringan
Penyaringan siswa didasarkan atas dua pertimbangan yaitu atas pertimbangan target dan atas pertimbangan nilai atau tingkat kemampuan yang telah ditetapkan.
4. Mengadakan pengumuman penerimaan
Pengumuman dilakukan setelah pelaksanaan hasil seleksi yang berdasarkan kriteria tertentu sesuai ketentuan suatu sekolah. Pengumuman dapat dilakukan dengan cara menempel daftar nama siswa yang diterima, atau bias dengan memanfaatkan media seperti Koran dan internet.
5. Mendaftar kembali calon yang sudah diterima
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa siswa yang telah diterima memang benar-benar akan masuk kesekolah tersebut. Selain itu untuk mengantisipasi jumlah kuota yang tidak sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Sehingga jika siswa tersebut membatalkannya maka sekolah dapat mengambil calon lain agar kuota dapat terpenuhi.
6. Melaporkan hasil kerjanya kepada pimpinan sekolah.
Kepanitiaan penerimaan siswa baru sifatnya sementara. Oleh karena itu maka setelah selesai bekerja mempunyai kewajiban untuk melapor. Setelah melapor baru kemudian kepanitiaan dapat dibubarkan.
Kesalahan dalam Proses Penerimaan Siswa Baru
Dalam prakteknya kadang terdapat suatu kesalahan (error) dalam kepanitiaan penerimaan siswa baru. Kebanyakan disebabkan karena kesalahan manusianya (human error). Untuk itu sebelum membentuk suatu kepanitiaan, sebaiknya dilakukan suatu penjelasan singkat mengenai tugas dan tanggungjawabnya masing-masing dalam kepanitiaan nantinya.
b. Ketatausahaan Siswa
Setelah melakukan penerimaan siswa, langkah selanjutnya yaitu memproses siswa-siswa tersebut ke dalam catatan sekolah (tugas tata usaha). Catatan-catatan sekolah dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Catatan-catatan untuk seluruh sekolah, terdiri atas buku induk, buku klapper, dan catatan tata tertib sekolah.
Buku induk adalah buku yang digunakan untuk mencatat data semua anak yang pernah dan sedang mengikuti pelajaran di suatu sekolah.
Buku Klapper, yaitu buku buku pelengkap buku induk yang ditulis menurut abjad dan berfungsi untuk membantu petugas dalam mencari data dari buku induk.
Catatan tata tertib sekolah, yaitu catatan atau peraturan yang bukan hanya diperlukan bagi siswa saja, tetapi juga untuk guru dan karyawan lain. Isi tata tertib mencakup seluruh aspek yang diperlukan dalam tercapainya kelanccaran proses pendidikan. Adapun tujuannya bukanlah semata menghukum siswa, tetapi sebagai salah satu media pembelajaran dan demi kebaikan siswa itu sendiri.
2. Catatan untuk masing-masing kelas
Catatan-catatan tersebut meliputi buku kelas, buku presensi kelas yang diisi setiap hari dan pada akhir bulan dihitung presentasi absennya, dan buku-buku lain mengenai catatan presensi belajar dan bimbingan penyuluhan.
c. Pencatatan bimbingan dan penyuluhan
Saat ini hampir semua sekolah memiliki tenaga dibidang bimbingan dan konseling, karena telah disadari perannya dalam menunjang keberhasilan siswa. Lalu seperti apakah pengertian bimbingan itu?
Kata bimbingan (guidance / to guide) memiliki arti mengarahkan, memandu, mengantarkan, membantu. Bimbingan adalah bantuan atau tuntunan khusus yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan potensi-potensi yang ada pada siswa tersebut agar dapat berkembang semaksimal mungkin.
Penyuluhan adalah proses interaksi antar pribadi pembimbing dan terbimbing untuk membicarakan masalah terbimbing untuk mendapatkan pemecahan.
Ada empat jenis bimbingan yang dapat dilaksanakan di sekolah yaitu bimbingan belajar, bimbingan pribadi, bimbingan sosial, dan bimbingan karier.[5]
Tujuan dari bimbingan itu sendiri antara lain :
1. Untuk mengetahui dan mengenal kondisi dirinya secara mendalam. Misalnya kelebihan dan kekurangannya, sifat-sifat yang dimilikinya, kemampuan yang paling menonjol, dan lain sebagainya.
2. mempunyai pengenalan yang lebih baik tentang situasi lingkungan, sehingga mampu memilih dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang ada secara tepat dan bertanggungjawab.
3. Dengan mengetahui kondisi dirinya sendiri, maka kesulitan-kesulitan yang dihadapi dapat diselesaikan secara tepat dan sesuai.
Fungsi bimbingan konseling
Menurut Akhmad Sudrajat[6], fungsi bimbingan konseling yaitu :
1. Fungsi Pemahaman
Yaitu membantu agar memiliki pemahaman terhadap diri (potensinya) dan lingkungannya (keluarga, sekolah, masyarakat, dan sebagainya), sehingga bisa mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
2. Fungsi preventif
Berfungsi sebagai upaya pencegahan dari berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya mencegahnya. Bentuknya berupa bimbingan tentang tata cara menghindarkan diri dari perbuatan yang membahayakan dirinya. Bahaya-bahaya yang tidak diharapkan misalnya, narkoba, minuman keras, drop out, pergaulan bebas, dan sebagainya.
3. Fungsi Pengembangan
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa. Teknik bimbingan dapat berupa diskusi kelompok dan pelayanan informasi.
4. Fungsi Penyembuhan
Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5. Fungsi Penyaluran
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6. Fungsi Adaptasi
Yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah / Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.
7. Fungsi Penyesuaian
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi Perbaikan
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu siswa sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak).
9. Fasilitas
Memberikan kemudahan kepada siswa dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
10. Pemeliharaan
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu siswa supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
d. Pencatatan prestasi siswa
Pencatatan prestasi siswa merupakan dari manajemen siswa, tetapi ada pula yang mengatakan merupakan bagian dari manajemen kurikulum. Pencatatan prestasi belajar ada yang merupakan pencatatan untuk seluruh sekolah, untuk masing-masing kelas, dan ada pula yang untuk siswa sebagai perseorangan.
1. Buku daftar nilai, merupakan buku pertama yang digunakan untuk mencatat hasil belajar yang diperoleh langsung dari kertas ulangan atau dari hasil ujian lisan.
2. Buku Leggier (buku kumpulan nilai), merupakan buku kumpulan nilai yang terdiri dari semua bidang studi yang diajarkan di sekolah tersebut untuk satu periode.
Untuk macam buku leggier ada dua, yaitu leggier kelas dan leggier sekolah. Leggier kelas yaitu buku kumpulan nilai semua pelajaran untuk satu periode tertentu untuk kelas tertentu. Sedangkan leggier sekolah yaitu buku kumpulan nilai untuk setiap kelas dan sudah dihimpun untuk seluruh sekolah.
3. Buku raport, adalah sebuah buku yang memuat hasil belajar siswa selama siswa tersebut mengikuti pelajaran di suatu sekolah.


PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat diambil beberapa point penting, yaitu :
· Manajemen peserta didik adalah kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan hingga siswa tersebut lulus dari sekolah disebabkan karena tamat atau sebab lain.
· Ruang lingkup manajemen terdiri dari empat kelompok yaitu :
1. Penerimaan siswa
2. Ketatausahaan siswa
3. Pencatatan bimbingan dan penyuluhan
4. Pencatatan prestasi siswa
· Masalah-masalah yang terkait manajemen peserta didik sebagian didominasi oleh kesalahan manusia (human error) dalam pelaksanaannya.


Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan UNY. 2008

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/fungsi-prinsip-dan-asas-bimbingan-dan-konseling/

http://satudunia.oneworld.net/?q=node/2608

Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2003

Pribadi. Sikun, Mutiara-Mutiara Pendidikan. Jakarta: Erlangga. 1987
[1] E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003) halaman 46
[2] Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan UNY, 2008) halaman 57
[3] http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=54
[4] http://satudunia.oneworld.net/?q=node/2608
[5] Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan UNY, 2008) halaman 65
[6]http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/fungsi-prinsip-dan-asas-bimbingan-dan-konseling/

Tidak ada komentar: