Showing posts with label Cerita Bijak. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bijak. Show all posts

03 September, 2015

Milestone - Cara Menikmati Hidup


Suatu ketika, di pinggir hutan, tinggallah seorang tua yang bijak. Orang-orang desa mengenalnya sebagai sosok yang baik hati. Pondoknya sering menjadi tempat berkunjung bagi yang membutuhkan bantuan. Makanan, minuman, obat-obatan dan seringkali nasehat-nasehat, kerap dihasilkan dari dalam pondok itu.

Ketenangan dan keasrian selalu menyertai sekitar lingkungannya. Hingga pada suatu hari, terdengar teriakan lantang dari luar, "Ajarkan aku tentang kehidupan!!". Ah, rupanya, ada seorang anak muda yang datang dengan tergesa-gesa. "Aku adalah pengelana, yang telah berjalan jauh dari ujung-ujung buana. Telah ribuan tempat kujelajahi dan telah ribuan jengkal kususuri. Namun, aku tetap tak puas, ajarkanlah aku tentang kehidupan." Begitu teriak si anak muda.

Terdengar sahutan dari dalam. "Jika kau memintaku mengajari tentang kehidupan, maka, akan ku ajari engkau tentang perjalanan" Sang tua keluar dari pondok, dengan tongkat di tangannya. Ia lalu menghampiri anak muda yang masih tampak tergesa itu, dan mengajaknya berjalan beriringan.

Lama mereka berjalan melintasi hutan. Namun, sang tua belum mengucapkan sepatah katapun. Tak ada ujaran lewat mulut yang disampaikannya. Hanya, setiap mereka menemui sebuah pohon besar, sang tua selalu menunduk, menarik nafas panjang dan lalu menorehkan tanda silang di setiap batang pohon. Terus, begitu lah yang di lakukan sang tua setiap kali menemukan pohon besar: sebuah tundukan kepala, tarikan nafas panjang, dan torehan silang di batang pohon.

Sudah setengah harian mereka berjalan. Anak muda itupun mulai resah. Ia masih belum bisa mengerti apa maksud semua ini. Sampai akhirnya, mereka menjumpai telaga, dan memutuskan istirahat disana. Terlontarlah pertanyaan yang telah lama di simpannya, "Wahai orang tua, ajarkan aku tentang kehidupan!.

Sang tua sudah bisa membaca keadaan ini. Sambil membasuh mukanya dengan air telaga, ia berujar. "Anak muda, kehidupan, adalah layaknya sebuah perjalanan. Kenyataan itu, akan mempertemukan kita dengan banyak harapan dan keinginan. Kehidupan, akan selalu berjalan dan berjalan, berputar, hingga mungkin kita akan tak paham, mana ujung dan pangkalnya.

"Namun, belajar tentang kehidupan, adalah juga belajar untuk menciptakan tanda-tanda pemberhentian. Belajar untuk membuat halte-halte dalam hidup kita. "Sejenak, berhentilah. Renungkan perjalanan yang telah kau lalui. Siapkan persimpangan-persimpangan dalam hidupmu agar dapat membuatmu kembali menentukan arah perjalanan.

"Pohon-pohon tadi, adalah sebuah prasasti, dan penanda buatmu dalam berjalan. Mereka semua akan menjadi pengingat betapa lelah kaki-kaki ini telah melangkah. Mereka semua akan menjadi pengingat, tentang jalan-jalan yang telah kita lalui. Pohon-pohon itu menjadi kawan yang karib tentang kenangan-kenangan yang telah lalu. Biarkan mereka menjadi penolongmu saat kau kehilangan arah. "

"Dan, anak muda, cobalah beberapa saat untuk berhenti. Sejenak, aturlah nafasmu, tariklah lebih dalam, pandang jauh ke belakang, ke arah ujung-ujung jejak yang kau lalui. Biarkan semuanya beristirahat. Sebab, sekali lagi, belajar tentang kehidupan, adalah juga belajar tentang menciptakan pemberhentian.

***

Teman, hidup, memang layaknya sebuah milestone. Sebuah batu penanda, penjejak, atau prasasti bagi sebuah perjalanan panjang. Benda itu, akan menjadi tumpuan saat kita kehilangan arah, dan juga petunjuk, saat kita membutuhkan pegangan.

Benda itu adalah juga jeda, adalah juga sela, adalah juga sebuah koma dalam kalimat. Dan layaknya sebuah jeda, ia pun juga berarti waktu, yang memberikan kita kesempatan untuk merenung. 

Teman, adakah milestone-milestone itu dalam hidup kita? Adakah jeda, sela, dan koma yang luput kita lakukan dalam hidup ini? Apakah hidup kita selalu di penuhi dengan terus berjalan dan berjalan tak pernah henti?

Cobalah, sejenak, berhentilah. Biarkan semuanya beristirahat. Ambillah masa untuk melalukan jeda. Tariklah nafas, tenangkan pikiran. Biarkan semuanya menjadi lebih nyaman. Biarkan kita ciptakan milestone-milestone dalam hidup ini, yang bisa menjadi petunjuk dan pegangan. 

Teman, cobalah. Temukan milestone itu dalam hidupmu!.

Download Cerita Lengkap KLIK DI SINI

Kisah Anak yang Cerdas


Suatu sore, Zahra sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zahra, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.

Sesaat kemudian, Zahra mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, "Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Zahra kembali bertanya, "Kok, hewan ini ada buntutnya? Sang Ayah, dengan sabar menjelaskan semuanya. Disisihkannya majalah di tangannya dan dipeluknya Zahra.

Beberapa lama berselang, Ayah lalu berkata, "Baik, kalau sudah selesai, ayo teruskan saja sendiri ya, sayang. Ayah sibuk. Zahra pun kembali ke tempatnya semula.

Namun, belum lima menit usai, Zahra kembali datang dan bertanya banyak hal. Dia mengoceh tentang hewan, hingga hal-hal yang diluar khayalan. Ayah pun mulai tampak segan dengan semua pertanyaan itu. Sebab, ia ingin sekali menyelesaikan bacaannya. "Ah, kalau saja aku bisa menyibukkan anak ini dengan pekerjaan lain, " gumam Ayah," tentu, ia tak akan membuatku repot. Begitu pikirnya dalam hati.

Aha, Ayah pun menemukan ide. Diambilnya gambar rumah dari sebuah majalah lama. Dan diguntingnya gambar itu menjadi beberapa bagian. Ia ingin membuat puzzle!. Tentu, anak umur 5 tahun, akan sulit sekali menyusun puzzle yang bergambar rumah. Ia lalu berkata pada Zahra yang sejak tadi memperhatikannya.

" Zahra, sekarang Ayah punya permainan. Ayo, coba susun kembali kertas ini jadi gambar rumah. Nanti, kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke sini. (--Hmm..tenanglah aku sekarang. Aku akan bisa menyelesaikan bacaanku, dan ia pasti akan sibuk sekali dengan pekerjaan ini, begitu gumam ayah.--)

Tiba-tiba. "Aku sudah selesai!" Belum 5 menit berlalu, kini, Zahra sudah kembali dengan susunan gambar rumah itu. Ayah pun bingung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang sulit itu? Ayah lalu bertanya, "Bagaimana caranya kamu menyusun gambar rumah ini? Pasti kamu minta tolong Bunda deh."

Mata bulat gadis itu berbinar, "Nggak kok. Aku membuatnya sendiri. Sebab, dibalik gambar ini, ada gambar boneka kesukaanku. Jadi, aku menyusun gambar itu saja. Ini, gambar bonekaku, aku senang sekali dengannya. Sang Ayah pun terdiam. Ia kalah, dan harus siap kembali menerima semua ocehan gadis kecilnya ini.

***

Teman, seringkali, kita menganggap anak-anak dengan naif. Kita kerap meremehkan pola pikir yang mereka miliki. Kita, yang sok dewasa, sering berpendapat, anak kecil, bukanlah guru yang terbaik buat kehidupan. Mereka semua hanyalah penganggu, dan sesuatu yang selalu mengusik setiap ketenangan.

Namun sayang, kita kerap salah. Dan Zahra, bisa jadi membuktikannya. Kita, seringkali menganggap dunia ini sebagai sesuatu yang sulit. Dunia, dalam pikiran kita, adalah potongan gambar-gambar yang tak runut. Potongan-potongan itu pulalah yang kita susun dengan perasaan takut. Dunia, bagi kita, adalah tempat segala masalah bersatu. Dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu.

Dengan kata lain, dunia, bagi kita, adalah layaknya benang kusut, yang penuh dengan keruwetan, ketakteraturan, dan kesumpekan. Dunia, bagi kita yang mengaku dewasa, adalah amarah, angkara, dengki, dan dendam, iri dan maki serta tangis dan nestapa.

Padahal, kalau kita mau menjenguk sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir disana. Ada banyak kenyamanan dan kesenangan yang mampu diwujudkannya. Ya, asalkan kita mau menjenguknya, melihat dengan lebih tekun dan jeli. Mencermati setiap bagian dari dunia yang kita sukai.

Jalin-jemalin kenyamanan yang dapat dirangkai dalam dunia, adalah sesuatu yang indah. Disana akan kita temukan kesejukan, ketenangan, kesunyian, keteraturan, keterpaduan dan segalanya, asalkan kita mau menjenguknya.

Jadi, mana potongan gambar dunia mana yang akan Anda susun? Dunia yang penuh angkara, atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri, atau dunia yang penuh peduli? Anda sendirilah yang akan menyusun potongan-potongan gambar itu. Susunan yang Anda pilih, akan membentuk kehidupan Anda.

Selamat menyusun potongan hidup Anda!!

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

Lessons of Live


I feared being alone until I learned to like myself.
I feared failure until I realized that I only fail when I don't try.
I feared success until I realized that I had to try in order to be happy with myself.
I feared people's opinions until I learned that people would have opinions about me anyway.

I feared rejection until I learned to have faith in myself.
I feared pain until I learned that it's necessary for growth.
I feared the truth until I saw the ugliness in lies.
I feared life until I experienced its beauty.

I feared death until I realized that it's not an end, but a beginning.
I feared my destiny, until I realized that I had the power to change my life.
I feared hate until I saw that it was nothing more than ignorance.
I feared love until it touched my heart, making the darkness fade into endless sunny days.

I feared ridicule until I learned how to laugh at myself.
I feared growing old until I realized that I gained wisdom every day.
I feared the future until I realized that life just kept getting better.
I feared the past until I realized that it could no longer hurt me.

I feared the dark until I saw the beauty of the starlight.
I feared the light until I learned that the truth would give me strength.
I feared change, until I saw that even the most beautiful butterfly had to undergo a metamorphosis
before it could fly.

~Bobbete Bryan

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

Cara Menikmati Hidup - Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang ditabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

***

Teman, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil,yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Teman, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

31 August, 2015

Rahasia Kekuatan Seorang Ibu

Suatu ketika, hiduplah dua suku di pegunungan Andes. Satu suku tinggal di lembah-lembah, sedangkan suku yang lain tinggal di atas gunung. Suatu hari, suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung.

Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mereka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka tidak tahu dimana letak desa suku gunung. Juga, tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak suku gunung di tebing-tebing gunung itu.

Tapi, meski pun begitu, mereka mengirim para prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit pertama gagal, mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain. Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja.

Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.

Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka, sambil menggendong bayinya. Mereka terkejut sekali, bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing-tebing itu mengalahkan mereka? Terlebih lagi, mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan. Bagaimana mungkin?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya, "Wahai ibu, kami gagal mendaki tebing ini. Bagaimana kau melakukan semua ini, mengalahkan seluruh prajurit terkuat? Bagaimana bisa? Engkau belum pernah menjadi prajurit!"
Ibu itu mengangkat bahu dan berkata, "Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu. Dan, kalian semua belum pernah menjadi Ibu."

(The Mountain, Jim Stovall)

***

Burung, tak pernah diajarkan manusia untuk terbang, dan Ikan, tak pernah belajar untuk berenang. Semuanya alami, semua berasal dari naluri. Hal itu, akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah. Hanya Allah lah yang memberikan kita kekuatan itu.

Dan, teman, cinta memberikan kekuatan. Sebab, cinta adalah kekuatan itu sendiri. Cinta seorang ibu adalah naluri, adalah alami, adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa-jiwa yang penuh rasa cinta. Setiap Ibu, tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya. Rasa itu akan hadir dengan sendirinya.

Kita pun, punya rasa itu. Asal kita mau, menjalani semua garis-garis yang telah ditentukan-Nya.

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

Panah - Cara agar hidup fokus

Suatu ketika, hiduplah seorang bijak yang mahir memanah. Dia, mempunyai 3 orang murid yang setia. Ketiga pemuda tersebut, amatlah tekun menerima setiap pelajaran yang diberikan oleh guru tuanya itu. Mereka bertiga sangat patuh, dan tumbuh menjadi 3 orang pemanah yang ulung. Telah banyak buruan yang mereka dapatkan. Bidikan mereka bertiga sangatlah jitu. Sampai suatu ketika, tibalah saat untuk ujian bagi ketiganya.

Sang guru, kemudian memilih lokasi ujian di sekitar tempat mereka belajar. Pilihannya jatuh pada sebuah pohon besar dengan latar belakang gunung yang indah. Di letakkannya sebuah burung-burungan kayu, pada cabang pohon itu. Setelah mengambil jarak beberapa puluh meter, Ia lalu berkata, "Muridku, lihatlah ke arah gunung itu, apa yang akan kau bidik.."

Murid pertama maju ke depan. Busur dan anak panah telah disiapkan. Dengan lantang, ia menjawab, "Aku melihat sebuah batang pohon. Itulah sasaran bidikanku." Sang guru tersenyum. Ia memberikan tanda, agar muridnya itu menunda bidikannya. Sesaat kemudian, murid yang kedua pun melangkah mendekat. "Bukan. Aku melihat sebuah burung. Itulah sasaran bidikanku. Biarkan aku memanahnya Guru. Nanti, " seru murid itu, "kita bisa memanggang burung yang lezat untuk makan siang."

Sang guru kembali tersenyum. Diisyaratkan tanda agar jangan memanah dulu. Ia bertanya kepada murid yang ketiga. "Apa yang kau lihat ke arah gunung itu?" Murid ketiga terdiam. Ia mengambil sebuah anak panah. Di rentangkannya tali busur, dibidiknya ke arah pohon tadi. Tali-tali itu menegang kuat. "Aku hanya melihat bola mata seekor burung-burungan kayu. Itulah bidikanku." Diturunkannya busur itu. Tali-tali panah tak lagi meregang. Sang Guru kembali tersenyum, namun kali ini, dengan rasa bangga yang penuh.

"Muridku, sejujurnya, kalian semua layak untuk lulus ujian ini. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat dalam memanah. Fokus. Sekali lagi, fokus. Tentukan bidikan kalian dengan cermat. Tujuan yang jelas, akan selalu meniadakan hal-hal yang menjadi penganggunya." Ia kembali melanjutkan, "Sebuah keberhasilan bidikan, akan ditentukan dari tingkat kesulitan yang dihadapinya. Sebuah pohon besar dan burung, tentu adalah sasaran yang paling mudah untuk di dapat. Namun, bisa mendapatkan bidikan pada bola mata burung-burungan kayu, itulah yang perlu kalian terus latih.

***

Teman, memanah, adalah sama halnya dengan hidup. Kita pun perlu mempunyai fokus. Kita butuh sasaran dan tujuan. Memang, selalu ada banyak godaan-godaan pilihan yang harus di bidik. Selalu ada ribuan sasaran yang akan kita tuju dalam hidup. Ada bidikan yang mudah, dan ada pula bidikan yang sangat mudah.

Namun, kita harus jeli. Kita wajib untuk cermat. Dan, sudahkan kita tentukan tujuan hidup kita dengan jeli, dengan cermat? Tujuan yang terfokus, mungkin bukanlah hadir pada hal-hal yang besar. Tujuan yang terfokus, kerap ada pada sesuatu yang kecil, yang kadang sering dianggap remeh. Teman, selalu ada banyak hiasan-hiasan dan marginalia yang muncul pada setiap tujuan hidup kita. Kadang, hiasan itu terlampau indah, dan membuat kita terpesona, lupa akan tujuan kita sesungguhnya. Marginalia itu kadang begitu menggoda, dan mengaburkan pandangan kita untuk menentukan fokus.

Dan teman, mari, bidiklah setiap sasaran itu dengan jeli. Siapkanlah "busur dan panah" hidup kita dengan cermat. Bukankah, nilai dalam lomba memanah, akan diukur dari lingkaran yang terkecil? Dari sanalah nilai terbesar akan kita dapatkan. Karena saya percaya, hidup adalah sama dengan memanah, dengan Allah sebagai "wasit penentunya."

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

Suara yang Tak Terdengar - Kisah raja dan anaknya

Suatu ketika, ada seorang Raja yang mengirim putra mahkotanya berguru kepada seorang bijak. Sang Raja ingin, anaknya dapat belajar seni bagaimana menjadi pemimpin sejati. Orangtua bijak itupun setuju. Ia lalu membawa sang putra mahkota ke tengah hutan, untuk belajar tentang kepemimpinan. Jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Sang guru lalu meminta putra mahkota itu untuk tinggal di hutan, bertapa sendirian, selama 1 tahun penuh. Berlalulah masa itu. Saat kembali, ditanyalah putra mahkota untuk bercerita tentang semua yang didengarnya. Anak itu menjawab, "Aku mendengar pipit bernyanyi, daun-daun bergemerisik, dan rumput yang menari bergoyang."

Rupanya, masa bertapa belum selesai. Sang Guru meminta putra mahkota untuk kembali ke hutan, dan berlatih mendengar lebih teliti. Anak itu pun bingung, tapi ia tetap menuju ke tengah hutan, dan mulai mendengar lebih teliti. Pertama kali, ia tak mendengar sesuatu yang baru. Dan waktupun berjalan begitu lambat. Pelan dan terus perlahan, sang putra mahkota belajar menyimak dengan lebih dalam.

Pada suatu pagi, anak itu mulai mendengar suara-suara sayup yang membawa nuansa baru baginya. Merasa senang, ia pun kembali kepada gurunya dan berkata, "Guru, saat ku mulai mendengarkan alam, aku mendengar "suara yang tak terdengar". Suara-suara kuncup bunga yang mengembang, suara-suara senyum rumput yang menyambut embun pagi, dan alam yang membangunkan musim semi. Begitu indah, dan senandungnya membuatku terlena. "

Sang Guru tersenyum, lalu berkata, "Nak, engkau telah mampu mendengar 'suara yang tak terdengar'. Engkau telah layak menjadi seorang Raja menggantikan ayahmu. Hanya orang-orang yang mampu mendengar suara-suara hati rakyatlah yang layak menjadi pemimpin. Mereka lah yang mampu merasai perasaan rakyatnya. Merekalah yang mampu meraba setiap keluh-kesah setiap orang."

"Mereka, mampu menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak tersalurkan, serta sedih dan tawa yang tak terungkapkan. Pada merekalah terhadap ciri sejati seorang pemimpin. Pada telinga merekalah degup-degup jantung rakyat dapat terus terasa getarannya."

"Nak, katahuilah, suatu kerajaan yang besar, akan hancur, apabila pemimpinnya, hanya mampu mendengar apa yang terlihat dan apa yang terlontarkan. Sebuah negara dapat binasa, saat para pemimpinnya tak berusaha untuk menelusup ke dalam relung hati rakyat dan merasakan hasrat yang ada di dalamnya. Nak, bersiaplah. Rakyatmu telah menunggu. "

Sang putra mahkota berjalan pulang, menuju istana tempat ayahnya tinggal. Dan sang Guru, memandang kepergian muridnya itu dengan bangga. Seorang pemimpin baru telah dibantu kelahirannya.

***

Teman, kisah ini, bisa jadi gambaran yang sangat sesuai untuk kita semua. Untuk kita, yang sangat merindukan, pemimpin dengan telinga-telinga sutra, yang mampu mendengar setiap getaran hati dan hasrat setiap rakyatnya.

Semoga, Allah masih akan menurunkan petunjuk bagi kita, mana pemimpin yang baik, dan mana pemimpin yang tak diridhoi-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita dapat berharap. Amin.

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

You Still Have Hope

If you can look at the sunset and smile, then you still have hope.
If you can find beauty in the colors of a small flower, then you still have hope.
If you can find pleasure in the movement of a butterfly, then you still have hope.
If the smile of a child can still warm your heart, then you still have hope.
If you can see the good in other people, then you still have hope.
If the rain breaking on a rooftop can still lull you to sleep, then you still have hope.
If the sight of a rainbow still makes you stop and stare in wonder, then you still have hope.
If the soft fur of a favored pet still feels pleasant under your fingertips, then you still have hope.
If you meet new people with a trace of excitement and optimism, then you still have hope.
If you give people the benefit of a doubt, then you still have hope.
If you still offer your hand in friendship to others that have touched your life, then you still have hope.
If receiving an unexpected card or letter still brings a pleasant surprise, then you still have hope.
If the suffering of others still fills you with pain and frustration, then you still have hope.
If you refuse to let a friendship die, or accept that it must end, then you still have hope.
If you look forward to a time or place of quiet and reflection, then you still have hope.
If you still watch love stories or want the endings to be happy, then you still have hope.
If you can look to the past and smile, then you still have hope.
If, when faced with the bad, when told everything is futile, you can still look up and end the
conversation with the phrase... "yeah...BUT.." then you still have hope.

***

Teman, harapan adalah sesuatu yang menakjubkan. Jalin-jemalin yang hadir didalam harapan, selalu mengikat jiwa manusia, walau kadang ikatan itu tak tampak. Harapan, akan selalu menguatkan tangan-tangan kita, saat yang lainnya melepaskannya. Harapan, akan selalu membuat kita tersenyum, saat semuanya menangis. Harapan, akan selalu membuat kepala kita tegak, dan menatap jauh ke depan, saat begitu banyak tantangan yang hadir. Harapan, adalah kekuatan yang diberikan Allah, bagi kita untuk terus mau berusaha.

Harapan, akan melukiskan senyuman di wajah kita, walaupun hati sedang gundah. Harapan akan menunjukkan arah bagi kaki-kaki kita, walaupun mata kita tak melihat jejak-jejak itu. Harapan akan memberikan dorongan, walaupun jiwa kita sedang dalam kebingungan.

Harapan, adalah juga sesuatu yang indah. Harapan adalah sesuatu yang harus disyukuri, yang memberikan kesegaran bagi setiap jiwa yang kering. Dan teman, harapan, dapat ditemukan di mana saja. Di setiap hati kita. Di setiap jiwa kita. Sebab, harapan adalah dian, adalah nyala, yang akan memberikan cahaya, dalam tempat yang gelap tanpa warna.

Teman, jangan pernah kehilangan harapan.

Download Cerita Bijak Lengkap KLIK DI SINI

Kisah Bijak - Tembok Rahasia

Suatu ketika, hiduplah seorang anak di sebuah rumah. Rumah itu cukup besar, untuk seorang anak yang tinggal hanya berdua dengan Ibunya. Ada banyak kamar dan ruangan disana. Setiap kamar, dipisahkan oleh sebidang tembok.

Namun, yang paling menarik adalah, ada satu ruang di sana yang tak memiliki pintu, dan hanya sebidang tembok yang melingkupinya. Anak ini sangat tertarik dengan tembok tersebut. Sebab, seringkali ia mendengar suara-suara yang menyenangkan disana. Ada nyanyian gembira, senandung damai, dan iringan musik yang membuatnya tambah penasaran.

Sang anak lalu bertanya pada Ibunya tentang kamar itu. Namun, beliau tak memberikan jawaban yang pasti. "Cari tahulah dengan caramu Nak," begitu ujar sang Ibu. Banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Ada apakah di sana? Apakah di sana ada banyak kesenangan dan kebahagiaan, seperti yang selalu terdengar dari luar?

Atau apakah, di sana ada cuma ada ruang yang gelap, pengap dan menakutkan? Mungkinkah di sana ada mahluk yang menyeramkan, yang akan siapa memakan siapapun yang masuk ke dalamnya? Bagaimana cara memasuki kamar itu, sebab tak ada celah baginya untuk masuk kedalamnya? Lagi-lagi, ada banyak pikiran yang terus berkecamuk dalam benaknya. Ia pun juga bingung. Tembok itulah yang menjadi tantangannya.

Namun suatu ketika, tanpa sengaja, anak itu terjatuh di depan tembok kamar itu. Tangannya menghantam cukup keras ke arah tembok. Brakk. Ahha, tiba-tiba, tembok itu roboh. Dan terpampanglah keadaan di dalam kamar itu. Disana, tampak sang Ibu, yang sedang memainkan piano dengan anggun. Dia tersenyum. Di sekitarnya, tertata puluhan alat musik lainnya. Ternyata, suara-suara itu berasal dari permainan musik sang Ibu. Semua itulah yang membuatnya penasaran.

***

Teman, kita semua, punya "tembok-tembok" yang harus ditembus. Setiap kita, punya halangan-halangan yang membuat kita sering berhenti untuk berusaha, dan mencari tahu. Ada banyak sekali harapan-harapan yang seringkali gagal hanya karena "tembok" besar yang menghadang. Karena seringkali, tembok itu menjadi sesuatu yang paling menakutkan buat kita.

Memang, dan ya, memang, tembok-tembok itu bisa jadi penghalang. Namun, tembok-tembok itu adalah juga tantangan buat kita untuk berusaha. Ada banyak keindahan-keindahan yang hadir saat kita mampu menembus rintangan itu. Ada banyak hal yang menakjubkan yang, siapa tahu, tercipta saat kita mampu melewatinya.

Jadi, siapkah kita menembus tembok-tembok kegamangan itu? Saya yakin. Kita semua bisa melewatinya. Amin

Download Cerita Bijak Lengkap Klik di sini

Kisah Penebang Kayu

Suatu ketika, hiduplah seorang penebang kayu muda. Dia tinggal bersama seorang istri yang baik. Setiap hari, penebang ini pergi ke hutan, dan menebang setiap pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.

Pada suatu pagi, si Penebang berkata pada istrinya, "Bu, aku akan menebang 10 pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua." Sang istri merasa senang. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.

Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang muda itu selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si penebang hanya mampu menghasilkan 8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si penebang muda ini cuma mampu menebang 3 pohon.

"Ah, mengapa ini semua terjadi. Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si Penebang, "Untuk orang seusiaku, pasti, akan ada lebih banyak pohon yang dapat ditebang." Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai tua?", keluhnya lagi.

Istrinya yang semula diam, mulai angkat bicara. "Suamiku, engkau memang masih muda, dan ya, aku yakin, engkau bisa menebang lebih banyak lagi. "Namun, engkau juga harus ingat, engkau harus mengasah kapak-kapakmu sebelum pergi bekerja. Sia-sialah semua tenagamu, kalau kau hanya punya kapak yang tumpul.
"Suamiku, kita tak dapat selalu berharap hasil tebangan yang banyak, kalau kita selalu lupa untuk mengasah kapak yang kita miliki."

***

Teman, kita, adalah juga si penebang muda tadi. Terlalu sering kita berharap, untuk mendapatkan banyak hasil, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita. Terlalu sering kita bermohon kepada Allah, untuk mendapatkan pahala dan imbalan yang sesuai, namun, dengan kualitas ibadah yang minim sekali.

Kerapkali, cuma sedikit waktu yang kita berikan untuk mengasah keimanan kita, dengan harapan pahala yang berlimpah. Kita sering lupa, untuk mengasah semuanya. Padahal disekeliling kita, ada banyak sekali hal bisa dijadikan pengasah batin dan iman kita. Kebajikan-kebajikan sosial, adalah salah satunya.

Dan teman, teruslah memberikan hikmah kita pada orang sekitar. Sebab, bukankah keharuman bunga akan selalu semerbak, pada tangan-tangan yang sering memberikan bunga?

Download Cerita Bijak Klik di sini

Tentang Mendidik Anak

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

***

Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Tentang Perangkap Monyet

Teman, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Caranya sangat manusiawi (*umm...atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Teman, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa "toples-toples" itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

Download Cerita Bijak Klik di sini

Api dan Asap

Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan.

Dia terus berdoa pada Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya. Setiap saat, dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat. Sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.

Lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah-rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, "Ya Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku.
Mengapa?... Mengapa?". Teriaknya melengking menyesali nasib.

Tiba-tiba...terdengar peluit yang ditiup. Tuittt.....tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini kembali terkejut, ia lalu bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini? Mereka menjawab, "Kami melihat simbol asapmu!!"

***

Teman, sangat mudah memang bagi kita, untuk marah saat musibah itu tiba. Nestapa yang kita terima, tampak akan begitu berat, saat terjadi dan berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan terus mengeluh. Namun, teman, agaknya kita tak boleh kehilangan hati kita. Sebab, Tuhan selalu ada pada hati kita, walau dalam keadaan yang pali berat sekalipun.

Dan teman, ingatlah, saat ada "asap dan api" yang membubung dan terbakar dalam hatimu, jangan kecil hati. Jangan sesali semua itu. Jangan hilangkan perasaan sabar dalam kalbumu. Sebab, bisa jadi, itu semua adalah sebagai tanda dan simbol bagi orang lain untuk datang padamu, dan mau menolongmu. Sebab, untuk semua hal buruk yang kita pikirkan, akan selalu ada jawaban yang menyejukkan dari-Nya. Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat kita. Jangan hilangkan harapan itu.

Download Cerita Bijak Klik di sini

Acceptance

Acceptance means that you can find the serenity within to let go of the past with its mistakes and regrets, and move into the future with a new perspective, appreciating the opportunity to take a second chance.

Acceptance means you'll find security again when difficult times come into your life, and comfort to relieve any pain. You'll find new dreams, fresh hopes, and forgiveness of the heart.

Acceptance does not mean that you will always be perfect. It simply means that you'll always overcome  perfection.

Acceptance is the road to peace - letting go of the worst, holding on to the best, and finding the hope inside that continues throughout life.

Acceptance is the heart's best defense, love's greatest asset, and the easiest way to keep on believing in yourself and others.

Download Cerita Bijak Klik di sini

Garam dan Telaga

Telaga Warna - Wonosobo
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi,
"Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Download Cerita Bijak Klik di sini

About Money

Money can buy a house, but not a home.

Money can buy a bed, but not sleep.

Money can buy a clock, but not time.

Money can buy a book, but not knowledge.

Money can buy food, but not an appetite.

Money can buy position, but not respect.

Money can buy blood, but not life.

Money can buy medicine, but not health.

Money can buy sex, but not love.

Money can buy insurance, but not safety.

Download Cerita Bijak Klik di sini

Kisah di Apotek

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, "Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu."

"Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui."

***

Teman, seperti inilah kita akan dihargai oleh orang lain. Inilah gambaran tentang perilaku yang kita dapat dari perlakuan yang kita berikan pada orang lain. Sebuah penghargaan, dan juga penghormatan, akan lebih baik, dari sekedar kritik yang tak beralasan.

Ini adalah sebuah cermin, tentang siapa kita, tentang siapa sebenarnya berhak untuk mendapatkan harapan perbaikan. Kritik yang disampaikan dengan cara yang keliru, seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi.

Jadi, teman, sampaikanlah kritik dengan lebih bijak. Selamat mencoba.

Download Cerita Bijak Klik di sini

God Knows

When you are tired and discouraged from fruitless efforts...
God knows how hard you have tried.

When you've cried so long and your heart is in anguish...
God has counted your tears.

If you feel that your life is on hold and time has passed you by...
God is waiting with you.

When you're lonely and your friends are too busy even for a phone call...
God is by your side.

When you think you've tried everything and don't know where to turn...
God has a solution.

When nothing makes sense and you are confused or frustrated...
God has the answer.

If suddenly your outlook is brighter and you find traces of hope...
God has whispered to you.

When things are going well and you have much to be thankful for...
God has blessed you.

When something joyful happens and you are filled with awe...
God has smiled upon you.

When you have a purpose to fulfill and a dream to follow...
God has opened your eyes and called you by name.

Remember that wherever you are or whatever you are facing...
GOD KNOWS

Download Cerita Bijak Klik di sini

Kisah Cangkir Yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. 
"Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. 
"Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. 
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara 
"Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

***

Teman, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. "Teman, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk Anda. Bentukan -bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk Anda.

Download Cerita Bijak Klik di sini