Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

26 July, 2009

Di Dalam Bis "KONSER"

Di Dalam Bis "KONSER"

Pukul dua tepat aku sudah berada di terminal. Hari itu baru saja selesai sekolah. Seperti biasa, aku dan teman-teman menanti bis yang akan mengantarkan kami pulang ke rumah masing-masing. Satu persatu anak-anak mulai berkumpul, membentuk suatu rombongan yang cukup kontras dengan pengunjung terninal lainnya. Hal itu disebabkan karena seragam kami yang terlihat sangat mencolok.

Sekolah kami tidak terlalu jauh dari terminal. Butuh waktu tidak lebih dari 2-3 menit untuk bisa sampai ke terminal. Oleh karena itu untuk naik bis, kami lebih senang langsung ke terminal. Selain dapat berteduh, juga bisa memilih tempat duduk dengan leluasa.

Pada jam seperti ini sudah banyak para siswa duduk mengantri di depan jalur pemberangkatan bis. Sedangkan sebagian lainnya duduk berjajar di pinggir trotoar menanti bis yang mereka tunggu tiba.

Menunggu adalah pekerjaan membosankan. Dan memang itu kenyataan. Oleh karena itu kami mengisinya dengan sedikit kesibukan. Masing-masing anak memiliki cara tersendiri untuk melakukannya. Ada yang bercanda, memberi tebakan atau sebuah permainan kata, ada yang membaca buku, ada yang berdiam diri emmandangi langit yang cerah, dan bahkan ada pula yang berhias (terutama kaum perempuan).

Sampai sekarang aku heran, kenapa perempuan selalu ingin tampil begitu sempurna. Toh tidak setiap saat mereka tidak selalu diperhatikan. Namun, tentu mereka memiliki alasan sendiri yang berbeda dengan pendapatku, bisa jadi pendapat mereka malah sangat bertentangan dengan pendapatku.

Aku salah satu di antara sekian banyak siswa tersebut. Namun, aku lebih suka menjadi penonton. Duduk diam seraya menyaksikan tingkah polah mereka yang sesekali mengundang tawa. Sejak kecil aku memang tidak suka menjadi seorang publik figure. Jika apa yang ingin dilakukan itu tidak bermanfaat, lebih baik diam. Itu yang menjadi mottoku atau entah apa namanya.

Sementara Adi, yang duduk di sebelahku sedang asyik membaca buku. Entah buku apa yang dibacanya. Yang jelas aku sama sekali tidak berminat untuk membacanya. Melihat tebalnya saja kepalaku sudah pusing. Gaya belajarku lebih cenderung pada tipe auditori, yaitu belajar dengan cara mendengarkan. Maka bisa dikatakan aku fobia dengan buku-buku tebal seperti itu. Apalagi jika di dalamnya tidak ada gambarnya, sama sekali tidak tercerna apa yang terkandung di dalamnya.

Lain hanya bagi Adi. Ia terlihat begitu asyik menyelami buku itu. Sesekali tangannya membetulkan kacamata tebalnya yang entah sudah sampai minus berapa. Dan ia sama sekali tidak terpengaruh oleh riuh tawa di sekelilingnya. Aku menyebutnya sebagai Einstein kecil. Sebab di kelas ia masuk ke dalam jajaran daftar siswa yang mendapatkan predikat jenius oleh para guru, khususnya dalam mata pelajaran fisika.

Dan ketika aku tanya apa rahasianya, dia hanya menjawab,

“Tidak ada yang rahasia, dan tidak ada trik khusus. Intinya kamu harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak pernah menyerah sebelum kamu mendapatkan jawabannya,”

“Oohh…” responku singkat.

“Gampangkan?”

“Ya, ya, ya…” Gampang apaan, aku sama sekali tidak mengerti… hi.. hi… Aku menertawakan diriku sendiri.

Tak lama kemudian bis yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Kami bersorak sorai menyambut kedatangannya. Kemunculannya bagaikan seorang jutawan yang hendak memberikan tiket pesawat gratis murah. Semua berebut hendak masuk ke dalamnya.

Bis cebong bertuliskan “KONSER” di kaca depannya berhenti tepat di hadapan kami. Ukurannya yang besar berbentuk balok mampu memuat lebih dari 50 penumpang. Pada bagian depannya terdapat puluhan lampu aneka warna, dan semuanya tertata dengan apik. Warna catnya yang terlihat baru membuat penumpang di dalamnya merasa percaya diri.

Tanpa menunggu komando, kami serentak menyerbu masuk bis. Semua ingin menjadi yang pertama yang memasuki bis tersebut. Akibatnya meeka semua tertahan di pintu masuk.

“Satu persatu!!” bentak kondektur bis geram.

Akhirnya semuanya telah masuk. Seperti biasa, Adi adalah orang terakhir yang masuk. Sebab ia tidak suka berebut seperti yang dilakukan teman-temannya. Sejak kecil ia telah belajar menjadi orang yang nrimo

Dalam waktu singkat bis telah sarat penumpang. Hanya beberapa bangku yang terlihat masih kosong, di bagian depan atau belakang sopir. Kebanyakan siswa memang tidak suka duduk di sana. Merekaa lebih suka duduk di bagian belakang atau dekat pintu, sehingga jika saatnya turun tidak terlalu repot.

Aku mengambil tempat duduk di dekat pintu belakang. Dari situ aku bisa meihat pemandangan luar dengan jelas. Selain itu aku juga bisa merasakan hembusan angin saat bis berjalan. Aku mengambil tempat duduk itu karena aku orang yang paling tidak betah dengan udara panas. Selain itu, kursi di bagian belakang lebih tinggi ketimbang kursi-kursi yang lain. jika tidak ada penumpang yang berdiri, aku bisa dengan leluasa melihat jalan di depan. Namun jika aku merasa mengantuk, maka aku memilih pojok kanan sebagai tempat dudukku. Di sana aku bisa tidur tanpa ada gangguan sampai tiba di tempat tujuan. Tapi duduk di dekat pintu lebih menyenangkan dari yang lainnya.

Walaupun ada resiko terjatuh, aku tetap menyukai tempat duduk itu. Dan untuk resiko terjatuh sangat minim atau mungkin tidak pernah terjadi, sebab ada sang kondektur / kernet yang selalu menjaga pintu tersebut.

“Sudah tidat ada lagi?” tanya kondektur pada kami.

“Tidak Mas,” kami memanggilnya Mas kerena ia masih terlihat sangat muda. Meskipun tidak tahu pasti berapa umurnya, tapi diperkirakan di bawah 30-an.

“Berangkat!!!”

Baru beberapa meter bis melaju, tiba-tiba sang kondektur berteriak.

“Stop! Stoop!!”

Bis berhenti mendadak, khawatir kalau menabrak sesuatu.

Para penumpang spontan menjerit sambil masing-masing berpegangan pada apa saja. Adi yang saat itu sedang berdiri, terlempar ke depan dan menindih tubuh Udin yang kecil. Melihat adegan itu, tak ada satupun siswa yang tidak tertawa. Terlebih ketika melihat wajah Adi yang meringis seperti kuda. Agak kasihan juga aku melihatnya. Sudah jatuh masih pula tertimpa tangga. Sedangkan Udin, sudah jatuh malah tertimpa gentong. Untuk sesaat ia tidak dapat bergerak. Tulang belulangnya seakan patah semua. Barulah ia bisa berdiri setelah seorang teman membantunya berdiri.

Semua penumpang tertawa menyaksikan kejadian itu. Mereka menganggap itu adalah hiburan dan tontonan gratis. Tidak terbersit dalam benak mereka jika yang sedang berada pada posisi Adi dan Udin adalah mereka sendiri.

Adi dan Udin masih terlihat meringis menahan rasa sakit. Mereka berdua duduk tanpa mempedulikan gelak tawa teman-temannya. Kendati tidak ada yang lecet atau memar, namun mereka masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Sementara itu, jauh di belakang sana, Amir berlari kewalahan. Tangannya melambai-lambai, mengisyaratkan bahwa ia ingin ikut naik.

Ketika sedang menyeberang jalan, tiba-tiba dari sebelah kanan melaju sebuah sedan dengan kecepatan tinggi. Sadar dengan bahaya yang sedang mengancamnya, Amir lantas berlari sekencang-kencangnya menghindari bahaya tersebut. Dan beruntung karena ia masih bisa terhindar dari bahaya yang baru saja mengancam jiwanya.

Fuh, nyaris saja. Pikirnya seraya terus memandang kepergian sedan tersebut.

“Ayo cepat Ndut!!” sang kondektur menyuruhnya mempercepat larinya.

“Ayo, Mir!!” yang lain menimpali.

“Kok aku ditinggal sih!!” protesnya pada sang kondektur. Tubuhnya penuh keringat. Wajahnya yang bulat terlihat memerah. Miriplah kiranya dengan ketel uap yang sedang merebus air.

“Salah sendiri jalannya lambat. Ayo cepat naik!!” ujar kondektur seraya menepuk bokong Amir supaya segera naik.

“Berangkat!!” dan bis pun perlahan bergerak.

Sang kondektur menuju ke kursi depan. Ia mengambil sebuah kaset, dan memutarnya melalui tape recorder yang terletak di depan kemudi. Sebuah lagu pun terdengar dari tiap sudut ruangan.

“Lagunya jelek. Ganti dong, Om!” protes Amir pada kondekturnya. Amir sudah kenal betul dengan kondekturnya, begitu pula dengan kami. Hal itu karena sudah terlalu seringnya kami pulang sekolah dengan bis tersebut. Bahkan mungkin bisa dikatakan hampir setiap hari. Sehingga tidak heran jika kami memiliki sebuah hubungan yang lebih dari sekedar hubungan antara kondektur dengan penumpangnya.

Namun, bukan berarti lantas kami gratis. Kami tetap membayar sebagaimana penumpang lainnya. Sebab kami tahu, pekerjaan tidak bisa di samakan dengan persahabatan.

“Cerewet! Emang maunya lagu apa?”

“Yang bagus, lah. Yang terbaru kek,”

“Ngaak ada yang baru, adanya kaset lama semua. Gimana? Atau ada temanmu yang bawa kaset? Biar diputar disini.” jelasnya.

“Aku ada!” seseorang lantas menyerahkan kasetnya pada sang kondektur, untuk kemudian diputarnya kaset itu.

“Terobosan kiri!!” seorang Ibu-ibu mengetokkan jari telunjuknya pada atap bis yang terbuat dari triplek. Maka terdengarlah bunyi nyaring sebagai isyarat yang ditujukan pada sopir untuk menghentikan kendaraannya.

“Ya, terobosan kiri!!”

Satu penumpang turun.

Mati satu tumbuh seribu, peribahasa itu sangat tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada bis itu setelahnya.

Tatkala ibu itu turun, lebih dari sepuluh orang, yang memang sudah menunggu kedatangan bis itu langsung naik memenuhi ruang kosong dalam bis itu. Satu-sua orang masih kebagian tempat duduk, namun sebagian lainnya terpaksa berdiri karena sudah tidak ada tempat duduk yang kosong.

Sebagian besar penumpang yang naik adalah para siswa yang juga selalu menjadi langganan bis itu. Sehingga wajar jika bis itu lebih dikenal dengan sebutan bis sekolah, meskipun tidak secara resmi sebutan itu disematkan padanya.

Namun banyak para siswa yang sangat tertolong oleh keberadaan bis tersebut. Mereka bisa pulang lebih cepat lantaran bis itu memang memberikan kepercayaan bisa mengantarkan penumpang lebih cepat. Dan tentunya dengan tetap mengutamakan keselamatan para penumpangnya, sesuai dengan slogan yang tertempel pada salah satu kaca jendelanya “Utamakan Keselamatan Penumpang”.

Dalam sekejap bis telah penuh sesak oleh penumpang. Panas matahari yang begitu terik serta tidak adanya kipas angin membuat udara di dalam bis menjadi panas. Satu persatu keringat para penumpang mulai bercucuran. Tidak sedikit dari para penumpang yang mengeluh karena kepanasan. Sementara itu bis tak juga kunjung berangkat.

Penumpang semakin bertambah, suhu udara di dalam bis terus meningkat.

Para siswa yang tidak tahan karena kepanasan mamanfaatkan buku catatannya sebagai kipas untuk mendapatkan hembusan angin. Sementara siswa yang lain lebih suka keluar dari dalam bis itu.

Aku yang juga telah berdiri karena harus mengalah dengan seorang kakek, ikut keluar. Namun kembali masuk karena takut tidak mendapatkan ruang di bis itu. Aku tidak tahan jika harus menggantung di pinggir pintu seperti sang kondektur jika bisnya sudah sangat penuh. Lebih-lebih hari ini aku sedang puasa. Biarkan mereka yang kuat saja yang berada di luar, bergelantungan di dekat pintu.

Aku sendiri berdiri di dekat Adi yang sampai saat ini masih duduk sambil asyik membaca buku. Di sebelahnya duduk Dewi, kakak kelasnya yang juga dikenal sebagai bunga di sekolah.

“Baca buku apa Di?” tanya Dewi pada Adi.

“Buku pelajaran,” jawab Adi singkat dan terlihat gugup.

“Oh, rajin banget. Hobi baca buku ya?”

“Ah, tidak, kok,” nadanya terdengar malu-malu. Wajahnya terlihat memerah, entah karena kepanasan atau karena sebab lain. Ia lantas memalingkan mukanya keluar jendela, seolah tida ingin mukanya yang merah itu diketahui oleh Dewi.

Cukup lama Adi menatap keluar jendela seraya sesekali mengusap keringat di dahinya.

Lama tidak berangkat juga, Adi mulai gusar. Keringat di pipinya mulai menetes. Ia lalu memasukkan bukunya, dan meminta ijin pada Dewi untuk memberinya jalan agar ia bisa keluar.

“Lho, mau ke mana?”

“Mau keluar, panas.” Mukanya terlihat begitu memerah seperti buah labu yang sudah masak.

“Permisi, Ri” aku pun sedikit menggeser tubuhku yang sudah tidak bisa bebas bergerak lagi.

“Kenapa, Di?” tanyaku.

Belum sempat Adi menjawab, dari belakang Amir nyletuk.

“Dia nervous kali Ri,”

Kata-kata Amir cukup keras untuk bisa didengar oleh genk JAIL yang duduk berderet di kursi paling belakang. Salah seorang yang diduga ketua genknya menimpali.

“Oalah Di, gimana kamu bisa dapat cewek kalau duduk besebelahan aja kamu mandi keringat.” Musik tawa lantas meledak mengiringi syair ejekan yang dibawa oleh ketua genk.

Wajah Adi semakin memerah. Ingin ia keluar, tapi ia khawatir jika teman-teman menganggap pernyataan Amir benar adanya. Ia ingin balas mengejek, tapi apa?

Merasa bersalah karena ucapannya, Amir mencoba mengalihkan topik.

“Wah, pasti karena banyak setannya,”

Merasa tersindir, genk tersebut langsung bungkam. Mereka tidak mau dikatakan setan lantaran menertawakan Adi. Padahal setan yang dimaksud Amir buka mereka. Amir teringat perkataan gurunya bahwa jika ada orang laki-laki dan perempuan berduaan maka yang ketiganya adalah setan.

Namun Amir tidak berniat hendak meluruskan maksudnya. Sebab dengan seperti itu mereka jadi diam dan beban bersalahnya pada Adi sedikit terkurangi.

Sementara Dewi lain lagi tanggapannya.

“Enak aja, emang aku setan,” sungutnya.

“Bukan,” sahutku. “Kuntilanak, kali.” godaku.

Sebuah cubitan keras bersarang di lenganku. Aku hampir berteriak kalau saja tidak ingat sedang berada di dalam bis. Kuusap lenganku berkali-kali supaya sakitnya lekas hilang.

“He he he… jangan main-main sama api, nanti kamu akan terbakar. Untung saja cuma merah, kalau gosong kan jadi hitam,” ledek Amir.

“Tega sekali kamu Wi, kulitku sampai hampir lepas,” ujarku masih sambil mengusap lenganku. Warna merah perlahan muncul pada bekas cubitan.

“Salah sendiri,”

“Coba lihat,” Dewi menarik lenganku sehingga aku terduduk. Dewi lalu mengambil sebuah hansaplast dari dalam tasnya. Dan ditempelkanya hansaplast itu pada bekas cubitannya.

“Maaf ya, aku kelewatan nyubitnya,” ungkapnya menyesal.

“Ngaak kok, justru aku yang kelewatan. Ada asap tentu karena adanya api. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api, bukan,” jawabku.

Bis berangkat lagi. Kali ini dengan penumpang yang penuh sesak. Aku beruntung karena bisa mendapatkan tempat duduk kembali. Sementara Adi menggantikan posisiku berdiri, sebab dia tidak mau ketika ditawari duduk lagi. Mungkin benar apa kata Amir tadi.

Adi memang orangnya cukup unik. Selama mengenalnya, jarang sekali atau mungkin malah tidak pernah aku melihatnya bercakap-cakap dengan perempuan. Jangankan dengan lawan jenis, dengan sesama jenis pun ia jarang sekali. Adi adalah sosok penyendiri. Satu-satunya yang menjadi teman setianya adalah buku-buku yang selalu ia baca.

Ingin sekali aku membantu mengubah kebiasaannya. Sebab jika ia terus seperti, khawatirnya jika sudah dewasa dan terjun kemasyarakat ia akan mengalami kesusahan. Sebab manusia adalah makhluk sosial yang nota bene tidak bisa mengatakan tidak untuk hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat merupakan hal mutlak yang mau-tidak mau, suka atau tidak suka manusia harus menjalaninya.

Mungkin Adi, dalam dirinya sendiri ada keinginan untuk berubah. Namun ia masih terlalu takut untuk mencobanya, sebab membentuk sebuah kebiasaan baru terbukti lebih sulit dari pada membentuk sebuah baja menjadi sebuah keris.

Tapi aku percaya, Adi pasti bisa melakukannya sendiri. ia cukup pintar dan rajin membaca buku. Mungkin apa yang ia perlukan untuk mengubah kebiasaan tersebut akan ia temukan dalam buku yang dibacanya. Hanya saja sekarang mungkin belum saatnya ia untuk mengetahui. Lambat laun waktu pasti akan mempertemukannya. Biarkan ia berproses. Dan membiarkan seseorang berproses dalam mencari jati dirinya merupakan suatu bentuk pemberian keleluasaan terhadap seseorang untuk memilih jalan hidup sesuai hati nurani yang dimiliki.

Selasa, 23 Desember 2008

Gowok.

Kak Amri

Kak Amri

Syafitri segera beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar sebuah suara dari pintu depan.

“Assalamu`alaikum,” bunyi suara itu dari luar.

“Wa`alaikumsalam! Ya, tunggu sebentar!” jawab Syafitri sambil mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin tamunya menunggu terlalu lama di luar yang sedang hujan lebat itu. Pintu depan dibuka, seseorang lelaki berperawakan tinggi tengah berdiri di depannya dengan senyumnya yang ramah.

“Ma`af, apa benar ini rumahnya Bu Rina?” tanya lelali itu pada Syafitri.

Syafitri baru menjawab ketika lelaki tersebut mengulangi pertanyaan untuk kedua kalinya.

“Oh, maaf. Eh, iya benar…” jawab Syafitri gugup.

“Silahkan masuk,” lanjutnya seraya menyembunyikan wajah merahnya karena malu.

“Ibu! Ada yang mencari Ibu!”

“Iya, tunggu sebentar.” Jawab Ibunya dari dalam.

Mendengar jawaban Ibunya, Syafitri lansung masuk kamar tanpa terlebih dahulu mempersilahkan duduk tamunya.

“Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ibu Syafitri pada tamunya.

“Saya Amri Bu, yang bertugas mengajar privat pada anak Ibu,” jawab lelaki yang bernama Amri tersebut.

“Amri?” kening Ibunya berkerut. Sesaat ia tampak mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Oya, silahkan duduk dulu,” lanjutnya.

“Setahu saya yang mengajar privat anak saya namanya Ahmad Minan Zuhri, bukan Amri,” ujar Bu Rina.

“Oh iya Bu, maaf. Sebenarnya nama saya memang Ahmad Minan Zuhri. Tapi teman-teman saya biasa memanggil saya dengan sebutan Amri,” jelas Amri kemudian.

“O… begitu. Amri… ya ya ya “ Bu Rina manggut-manggut. “Disingkat begitu ya?”

“Ya begitulah, Bu,” jawab Amri sungkan.

Dari balik kamarnya, Syafitri menguping pembicaraan Ibunya dengan tamu tersebut. Penasaran dengan tamu Ibunya, Syafitri lalu mencoba mengintip melalui celah pintu. Namun sial baginya karena pada saat yang bersamaan lelaki itu sedang melihat ke arahnya. Karuan saja Syafitri langsung menutup kembali pintunya dengan perasaan tak karuan. Malu, takut, dan sebagainya.

Semoga ia tidak melihatku, hanya kata-kata itu yang terus berulang di dalam benaknya. Ia kembali ke tempat tidurnya dan tidak lagi menguping pembicaraan mereka.

Ia lalu tidak memberanikan diri keluar dari kamar untuk menemuinya. Ia pun pura-pura tidak dengar ketika Ibunya memanggil-manggil namanya.

Ia baru berani keluar setelah tamu Ibunya pergi.

“Ada perlu apa sih lelaki itu sama Ibu?” tanyanya penasaran.

“Oh, Amri yang kamu maksud?” Bu Rina balik bertanya.

Syafitri mengangguk.

“Dia anak yang nantinya akan mengajar privat adikmu.” Jelas Ibu.

“Dia?” dengan intonasi kurang percaya..

“Memangnya kenapa?”

“Ah, tidak. Tidak apa-apa kok,” sahutnya gugup.

Aduh gawat nih. Mau di taruh di mana mukaku kalau beryemu dengannya. Bisa-bisa aku akan berada di kamar terus nih. Tapi, kenapa harus malu? Yang namanya baru bertemu wajar aja kali kalau salah tingkah.

Keesokan harinya Syafitri pulang sekolah sampai sore hari. Setibanya di rumah ia mendapati adiknya sedang belajar dengan Amri, guru privatnya. Dengan wajah menunduk Syafitri berjalan melewati mereka. tak sepatah katapun ia ucapkan untuk sekedar menyapa mereka. Mulutnya seolah terkunci rapat. Dan jalannya pun dipercepat.

“Selamat sore, Syafitri’”

Deg. Syafitri terkejut mendengar namanya disebut. Seketika itu pula langkahnya terhenti. Dengan agak berat ia menoleh pada suara yang memanggilnya.

“Sel.. selamat sore juga,” jawabnya gagap. Dicobanya untuk tersenyum.

“Kok kamu sudah tahu namaku. Kita kan belum kenalan?” lanjutnya.

Amri tersenyum. Untuk sementara perhatiannya beralih pada Syafitri. Sedangkan Adi sama sekali tidak merasa terganggu karena ia sedang asyik menyelesaikan pekerjaannya.

“Nama saya Amri,” ucapnya memperkenalkan diri. “Untuk beberapa minggu ini saya ditugaskan untuk membimbing privat adikmu,” lanjutnya.

“Ooohhh…” jawab Syafitri pura-pura baru mengetahuinya. Sebenarnya semalam ia sudah menginterogasi Ibunya habis-habisan. Bahkan mengenai asal dan tempat tanggal lahirya pun ia sudah tahu.

Wah ternyata baik juga orang ini. Kupikir tadi aku mau diledek.

Tanpa disadari ia mulai menyukainya. Dan senyum di bibirnya mengembang tanpa dibuat-buat. Senyum yang manis sekali, yang ia tujukan pada guru privat adiknya.

Sayangnya Amri tidak menyadari hal itu. Dan ia bersikap wajar saja, bahkan malah kembali ke meja tempat ia sedang belajar dengan Adi.

Hari-hari berlalu. Dan Syafitri mulai akrab dengan Amri. Ia mulai menampakkan dirinya yang sebenarnya. Sifat cerewetnya yang tidak bisa ditinggalkan, apalagi jika sudah bercerita tentang pengalamannya sendiri, dan juga sifat usilnya yang kadang kebangetan.

“Syafitri, jangan ganggu adikmu yang sedang belajar,” ujar Ibunya ketika Syafitri ikut nimbrung dengan adiknya.

“Nak Amri, kalau Syafitri menggangu disuruh pergi saja,”

“Iya, Bu.” Jawab Amri singkat.

Namun Syafitri justru malah semakin terlibat lebih jauh dengan kegiatan adiknya. Malah kadang ia meminta Amri untuk membantunya mengerjakan soal-soal.

Walau agak keberatan Amri mau juga melakukannya, dengan tanpa mengesampingkan Adi.

“Kak Amri! Kak Amri!” seru Syafitri dari halaman depan. Ia buru-buru masuk sambil membawa kertas hasil ulangannya. Ia terlihat sangat gembira.

“Ibu, kak Amri mana?” tanyanya katika tida kmenemukan Kak Amri di rumahnya.

“Buat apa kamu mencari Amri?” tanya Ibunya keheranan.

“Iya, nih. Ngganggu orang lagi belajar aja,” Adiknya membeo. Ia terlihat sedang asyik mengerjakan tugas sekolahnya seorang diri.

Syafitri tidak menanggapi protes adiknya.

“Kak Amri mana, Bu?” ia mengulangi pertanyaannya.

“Amri sudah tidak lagi mengajar di sini, jatah pertemuannya sudah habis,”

“Habis?”

“Iya,” jawab Ibunya sambil mengangguk.

Syafitri terduduk di kursi di depan adiknya yang sedang asyik belajar. Wajahnya berubah murung. Kertas yang ada di genggamannya terlepas tanpa ia sadari. Adi memungutnya dan membacanya.

“Wah dapat nilai seratus. Hebat sekali, Kak…!” puji Adi pada kakaknya.

Syafitri tidak memberikan respek apa-apa terhadap pujiannya adiknya. Bahkan tersenyum sedikit saja tidak. Ia justru malah terlihat murung, seraya memandang lurus ke depan. Matanya seolah sedang melihat adiknya. Namun sebenarnya tidak, pandangan matanya kosong. Pikirannya kembali ke suatu titik di masa lalu, yang membuatnya rindu untuk mengulanginya. Ke masa di mana ia mendengar sebuah suara dari pintu depan rumahnya, dan dalam hujan deras…

Believe

Keyakinan adalah senjata paling ampuh untuk melawan keragu-raguan

Siang hari yang cerah, aku baru saja menerima berita kelulusanku. Bahagia, senang. Tak dapat kulukiskan betapa gembiranya hatiku. Berkali-kali aku ciumi amplop putih yang telah aku lihat isinya. Di dalamnya tertulis jelas sebuah kata dengan huruf kapital bercetak tebal :

LULUS

Tidak sia-sia usahaku selama ini. Tidak percuma orang tua menyekolahkanku selama tiga tahun di sekolah ini. Tangisan kekecewaan orang tua yang selama ini terbayang menguap sudah dari benakku. Tidak ada alagi perasaan tegang, cemas, takut, dan perasaan tidak mengenakkan lainnya. Semuanaya sirna, yang ada hanya euforia dan sorai sorai atas kemenangan yang aku dapatkan.

Seluruh anggota keluarga memberikan selamat padaku. Tak terkecuali adik kecilku. Walaupun tidak bisa mengucapkan kata selamat dengan benar (karena masih cedal), aku merasa dia juga turut bahagia dengan kelulusanku. Ia juga memberiku sebuah permen kesukaannya, dan itu sungguh membuatku terharu. Anggota keluarga yang lain juga memberi hadiah padaku.

Dari sekian banyak hadiah yang mereka berikan padaku, yang paling membuatku senang sekaligus terharu ialah ketika orang tua menawariku untuk melanjutkan sekolah yang aku sukai. Bahagia dan senang rasanya. Beribu terima kasih tak lupa aku ucapkan pada mereka.

Manindaklanjuti penawaran orang tua, aku lantas mencoba mencari informasi tentang perguruan tinggi yang berkualitas. Di antara sekian banyak perguruan tinggi, aku memilih lima yang memungkinkan aku masuki.

Diantara kelima perguruan tinggi tersebut aku mendapatkan kebingungan dalam menentukan pilihanku. Aku sudah menanyakan pada seluruh anggota keluarga. Mereka pun membagi informasi yang mereka ketahui. Namun, pada akhirnya juga mereka kembali segala keputusan padaku.

Sulit bagiku untuk mengambil keputusan mengingat kelima perguruan tinggi tersebut sangat ingin aku masuki. Walaupun demikian aku tetap harus memilih. Tidak mungkin aku memasuki kelima-limanya sekaligus. Lagipula hidup adalah pilihan. Dan mau tidak mau kita harus memilih meskipun sebenarnya hal itu tidak kita inginkan. Keinginan kita ialah mendapatkan semuanya. Namun sekali lagi hal itu amatlah mustahil mengingat manusia memiliki keterbatasan, baik dalam indera maupun jiwa.

Tidak mudah memang ketika tiba saatnya untuk memilih. Ada semacam kecemasa dan ketakutan dalam mengambil suatu keputusan. Ya, sebab keputusan itulah yang nantinya akan menentukan arah hidup selanjutnya. Akankah menjadi lebih baik ataukah malah sebaliknya. Itulah yang kebanyakan orang derita ketika dihadapkan oleh pilihan-pilihan. Andaikata hidup itu tidak harus memilih...

Waktu terus berjalan. Sementara aku belum juga menentukan pilihanku. Aku masih belum bisa mengambil keputusan. Aku baru menyadari setelah aku mengalami bahwa ternyata memilih tidaklah semudah menunjuk orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam hal memilih, aku melihat ada konsekuensi di dalamnya. Dan konsekuensi itulah yang nantinya harus ditanggung sendiri. Suka atau tidak suka dengan akibatnya harus tetap diterima.

Detik berlalu semakin cepat. Aku merasa waktu berjalan lebih cepat dua kali lipat dari keadaan biasa. Waktu seakan mengejarku, dan aku terengah-engah karenanya. Seandainya saja perguruan tingginya hanya satu, tentu tidak harus pusing-pusing memilih.

Aku terkadang merasa iri melihat teman-teman yang lain yang hanya bisa memasuki perguruan tinggi. Terpikir olehku, seandainya saja aku seperti mereka, tentu aku tidak akan susah-susah lagi memikirkan hal semacam ini.

Apakah aku ini bodoh?!?

Ya, aku memang bodoh. Seharusnya aku bersyukur karena mendapat kesempatan lebih banyak ketimbang mereka. Aku mendapat kesempatan untuk memilih sendiri pilihanku. Dan aku bisa dengan leluasa menentukan arah hidupku. Sementara mereka harus memasuki perguruan tinggi yang mungkin sebagian besar mereka tidak menyukainya.

Ayo!! Berpikirlah!! Rileks…. tenang…

Aku mengatur napasku perlahan. Kuhirup udara semampuku lalu beberapa saat kemudian melepaskannya sedikit demi sedikit bersama beban-beban yang seolah menghimpitku.

Setelah melalui beberapa tarikan napas, aku mulai bisa menenangkan diriku sendiri. Aku mulai bisa berpikir jernih. Ayo, kamu pasti bisa! seruku pada diri sendiri. Kutata diri, dan mulai mengakumulasikan berbagai pertimbangan baik buruknya, dengan tujuan akhir harapannya mencapai yang terbaik.

Ketika aku sudah mantap dengan keputusanku, sesuatu yang sama sekali tak terduga mengubah segalanya. Ayahku meninggal. Kejadian tersebut sungguh sangat mengguncang jiwaku. Duka lantas mengunjungi rumahku dan keluarga-keluarga terdekatku. Hujan air mata turun begitu deras di musim kemarau nan panjang. Tak ada sesuatupun yang tumbuh karenanya selain kesedihan dan kepedihan yang mencuat dari jiwa yang tertekan. Pancaran cahaya kepastian perlahan meredup dalam hatiku, atau mungkin hilang sama sekali. Segalanya menjadi gelap dan kelam penuh ketidakpastian.

Senja mulai temaran. Saat itu aku baru saja pulang dari pemakaman. Dalam keadaan kacau dan tak menentu, aku bertemu dengan sahabat-sahabatku. Mereka datang dengan membawa sedikit sinar terang bagiku. Aku merasa sedikit terhibur lantaran kehadiran merekak sangat berarti bagiku. Tidak ada beban yang terlalu berat jika kita mau berbagi. Dan tidak akan ada rasa kehilangan jika di hati kita masih ada perasaan saling memiliki.

Namun demikian keraguan masih menyelimuti jiwaku yang kini tak tahu harus kemana melangkahkan kaki. Secercah pancaran sinar korek api belum cukup menerangi jalanku yang panjang dan berliku. Dan aku masih tetap berdiri, berpijak pada bumi yang sama seperti tentara penjaga istana di Inggris, diam tak bergerak. Tidak ada lagi niat dalam hatiku untuk melanjutkan sekolahku.

Seiring waktu berjalan, aku mmulai menemukan kembali pancaran cahaya kepastian itu. Cahaya tersebut datang dari orang-orang terdekatku. Adik, kakak, Ibu, dan teman-teman bermainku. Dorongan dan motivasi mereka memberikan api semangat dalam diriku. Bara yang hampir padam perlahan menyala karena tertiup angin sepoi menyejukkan.

Baiklah ayah... aku akan melanjutkan sekolahku. Mungkin seperti itu juga yang menjadi maumu. Aku harap engkau tetap bisa menyadi penyemangatku meskipun ku tahu engkau sudah tidak ada di sampingku lagi. Harapanku semoga aku bisa menjadi seperti orang yang pernah engkau harapkan, serta mampu berbakti kepadamu, membalas segala jasa dan jerih payahmu. Meskipun aku tahu tidak akan pernah terbalas lantaran begitu melimpahnya kebaikanmu padaku.

Ya Allah, berilah hamba kemantapan diri. Mudahkanlah perjalanan hamba untuk mencapai ridho-Mu. Terangilah jalanku agar dalam ku melangkah tidak terjerumus kedalam perkara yang Engkau murkai...

Ya Allah, ampuni kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil...

Kecewa

KECEWA

Pagi ini aku terlambat bangun. Tatkala perlahan mengintip dunia, serta merta cahaya matahari menghambur menyerbu masuk ke dalam kornea mataku. Aku meringis seraya mengangkat tangan, mencoba menghalangi sinar benderang tersebut.

Ketika bangun badanku terasa sakit semua. Efek dari begadang semalan menyebabkan seluruh otot tulang dan syarafku menegang. Semalam aku dan teman-teman begadang sampai dini hari demi membela klub kesayangan bermain di piala dunia. jangan bangga dulu kawan, sebab klub yang kami banggakan bukanlah dari Indonesia. Butuh waktu 12 tahun lagi agar Indonesia bisa ikut piala dunia. Dan itu pun dengan konsekuensi langsung di depak dari babak penyisihan. Sungguh menyedihkan dunia persepak bolaan di Indonesia.

Asyik dan menyenangkan bisa ramai-ramai hanyut dalam ketegangan. Terlepas jiwa ini seakan terbang melayang lalu tiba-tiba berdiri di tengah-tengah lapangan menghadapi bola yang sedang diperebutkan. Maniak bola memang biasanya merasa ikut bermain walau sebenarnya hanyalah duduk di depan TV sambil mengunyah permen karet atau makan camilan kacang yang dibelinya beramai-ramai. Tapi satu hal yang patut dikagumi adalah mereka sekalu setia dengan pemain kesayangannya.

Tidak seperti biasanya aku bangun kesiangan. Meskipun sering begadang, aku tidak pernah kesiangan, apa lagi sampai sesiang ini. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul setengah tujuh. Tidak ada lagi waktu untuk sholat shubuh. Namun demikian aku tetap melaksanakan sholat shubuh itu. Menurut yang telah aku pelajari, lupa sholat dalam keadaan tidur masih bisa dimaafkan, dan diharuskan segera sholat begitu terbangun dari tidurnya.

Pagi ini aku benar benar kelabakan. Pasalnya hari ini untuk pertama kalinya melaksanakan tugas PPL. Aku ditugaskan praktek mengajar di sebuah sekolah menengah atas. Aku khawatir jika hari pertama ini aku datang terlambat. Apa jadinya nanti jika kesan pertama sudah terlihat tidak becus. Datang saja sudah terlambat, bagaimana bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya? Belum lagi tanggapan guru lain tentangku. Lebih dari itu mereka mungkin akan mengkaitkanku dengan perguruan tinggi tempat aku selama ini berproses. Tentunya imej perguruan tinggi itu akan turun ratingnya dari segi kualitas dan sistem pendidikannya. Itulah kawan, menjadi mahasiswa harus pandai menjaga nama baik istitusi di mana kita tinggal dan berproses.

Seperempat jam aku mandi dan mempersiapkan diri. Kunci motor di dekat komputer aku sambar. Kamar aku kunci tanpa terlebih dahulu mematikan lampunya.. Kunyalakan mesin motorku dan segera tancap gas menuju medan pertempuran tanpa terlebih dahulu memanaskannya.

Waktu seperempat jam yang tersisa masih cukup untuk bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu. Aku masih beruntung pagi itu karena tiga traffic light yang aku lewati selalu dalam keadaan hijau. Maka aku pun terus menancapkan gas seperti tak berniat menguranginya.

Satu kilometer menjelang sampai tempat tujuan, entah kenapa aku merasakan motorku terasa oleng, terutama pada roda depan. Serta merta aku mengurangi kecepatan dan kaki menginjak pedal rem. Saat benar-benar berhenti aku mendengar desis angin keluar dari ban depan motorku. Dan….

Astaghfirullahal`adhim!! pekikku dalam hati. Ban depan motorku kempes. Bagaimana ini.

Dalam keadaan bingung, aku menoleh ke kiri kanan mencari tukang tambal ban terdekat. Beruntung karena tidak jauh dari situ ada sebuah tambal ban yang sepertinya baru saja buka.

“Permisi, Pak. Selamat pagi,” sapaku ramah. Aku mencoba sambil tersenyum walau rasa kesal sedang beramai-rama menggerogoti hatiku.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu dek?”

“Ban depan motor saya kempes Pak, sepertinya bocor. Apa bapak bisa menambalnya sekarang,” jelasku seraya menunjuk ban depan yang kempes. Sama halnya dengan perutku yang kempes karena belum sempat sarapan tadi pagi.

“Oh, bisa dek bisa,” jelasnya sambil menekan-nekan ban yang kempes tersebut.

“Tapi bapak harus mempersiapkan peralatannya dulu Dek, soalnya bapak baru buka. Sebagian peralatan masih berada di dalam rumah,” memang benar apa yang dikatakan bapaknya, bengkelnya memang baru buka. Sebagian peralatan masih tersimpan di balik rumahnya yang hanya terbuat dari bilik bambu.

Aku mempertimbangkan perkatan bapak tadi dengan waktuku yang terus berjalan jauh meninggalkanku.

“Kira-kira berapa lama selesainya Pak?”

“Sekitar sepuluh menit, itupun kalau lubang bocornya cuma satu,”

Sepuluh menit? Mana bisa aku menunggu selama itu. Sedangkan lima menit lagi aku harus sudah berada di depan murid-muridku. Bagaimana ini…. apa aku harus tetap mengendarai motorku dengan ban kempes seperti itu? Hal itu mustahil kulakukan. Selain itu ban dalamnya akan rusak jika terus dipaksakan untuk jalan.

Aku kebingungan. Sementara itu belum ada kendaraan umum yang melintas di jalan itu. Seandainya saja ada, mungkin aku akan sedikit tertolong. Lalu aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sekolah tempat aku tuju sudah terlihat walau dari kejauhan, mungkin tidak butuh lima menit untuk sampai ke sana. Belum lagi jika ada kendaraan umum yang lewat, maka aku akan lebih beruntung lagi.

“Em.. begini saja, Pak. Kebetulan saat ini saya sedang terburu-buru. Kalau bisa bagaimana jika motor ini sementara saya tinggal disini saja. Silahkan bapak perbaiki sampai selesai dan saya akan mengambilnya nanti sehabis dzuhur,”

“Oh, iya tidak apa-apa,” jawabnya.

Aku lantas mengulurkan tangan bermaksud hendak memberikan kunci motornya. Namun diluar perkiraanku, bapak tadi mengulurkan tanngan, bukan menerima tetapi menolak kunci yang akan kuberikan.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Demi alasan keamanan, silahkan adek bawa saja kunci motornya. Dan sebelumnya tolong dikunci stang lebih dulu.”

“Lalu bagaimana Bapak memperbaiki ban motor saya.”

“Bapak masih bisa memperbaikinya meskipun dikunci stang. Bapak ingin adek tenang ketika meninggalkan motornya di sini. Dan bapak pun merasa tenang memperbaikinya.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Mungkin itu salah satu manajemennya dalam mengelola pekerjaannya. namun aku tidak begitu mempedulikannya, yang jelas aku harus segera meninggalkan tempat itu.

“Kalau begitu keinginan bapak, kunci ini saya bawa. Dan saya juga minta tolong pada bapak untuk menjaga motor saya sampai saya mengambilnya kembali,”

“Kalau itu sudah menjadi tugas saya. Adek tidak usah khawatir bapak akan menjaganya. Lagi pula kuncinya kan ada di tangan adek, jadi tidak akan ada yang bisa membawa motor adek selain adek sendiri,” Hatiku tenang mendengar penuturan bapak itu. Maka saya pun mempercayakan sepenuhnya motor saya padanya.

“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Saya harus segera pergi, Assalamu`alaikum,”

“Wa`alaikumsalam,” jawabnya ramah.

Aku melangkahkan kaki dengan ringan meninggalkan bengkel kecil yang baru saja buka tersebut.

Mentari kian meninggi. Cahaya yang kuning keemasan perlahan berubah menjadi putih perak, dan menembus dedaunan hijau yang tertanam sepanjang trotoar jalan.

Aku terus berjalan sepanjang trotoar sambil sesekali melihat memperhatikan jarum jam yang terus bergerak di tangan kiriku. Sambil terus berjalan aku mengharap akan ada sebuah mobil angkutan melintas di jalan itu. Namun sekian lama menunggu harapan itu tak kunjung juga datang. Aku pun memutuskan berlari di sepanjang trotoar itu. Berpacu dengan waktu untuk sampai terlebih dahulu di depan pintu gerbang sekolah. Malang bagiku karena aku sama sekali tidak memiliki referensi menjadi seorang pelari, maka baru berlari beberapa meter napasku sudah tidak kuat. Hari ini aku menyesali nasibku. Mengapa dulu aku tidak ikut latihan lari seperti yang di ajarkan Pak Romadhon pada anak kamung lainnya. Seperti kata orang, penyesalan memang selalu datang di belakang.

Pintu gerbang tinggal berapa ratus meter lagi. Wajahku semakin cerah, walau keringat mulai membasahi tubuhku yang kepanasan. Sayangnya kegembiraanku berlangsung sangat singkat tatkala melihat bahwa pintu gerbang perlahan mulai ditutup. Penjaga hanya menyisakan celah yang hanya bisa dilewati oleh satu orang.

Khawatir gerbang akan ditutup rapat, aku mulai panik. Terbayang olehku citra buruk yang akan mereka sematkan padaku. Tentunya hal ini akan semakin mempersulitku dalam melaksanakan tugas PPL. Lebih dari itu aku harus tetap menjaga nama baik perguruanku. Apa jadinya jika citra buruk itu tersemat pada perguruan tinggiku hanya karena aku tidak bisa disiplin. Tentu sebuah kesalahan secara jamaah, dan aku akan merasa bersalah pada semua orang yang bernaung di bawah perguruan itu.

Ketika benar-benar tidak ada angkutan yang lewat disitu, aku pun nekat menyetop sebuah sepeda, kebetulan pengendaranya adalah siswa sekolah tersebut. Siswa itu ketakutan ketika serta merta aku mengambil alih sepedanya. Awalnya ia akan lari, tapi aku segera menyuruhnya duduk dibelakang dengan nada agak membentak. Siswa itu tak berkutik dan menuruti saja perintahku. Tanpa banyak bicara lagi, aku mulai mengayuh sepeda tersebut. Sepeda pun bergerak dengan hukum fisika berubah beraturan. Sepeda meluncur dengan kecepatan tinggi. Fantastis! Aku merasakan diriku seolah sedang mengendarai angin. Roda depan yang tipis dan pipih membentuk sudut aerodinamis yang membuatku semakin mudah membelah angin.

“Hati-hati, Mas!” teriak siswa yang duduk di jok belakang. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Tangannya mendekap erat perutku. Aku tidak bisa bernapas. Sementara itu satpam mulaimenutup rapat pintu gerbang.

“Tunggu dulu Paak!!!” teriakku berusaha menghentikannya, dan berhasil. Satpam tersebut menoleh kearahku. Dia terkejut ketika sepeda yang aku tunggangi hampir saja menabraknya.

“Maaf Pak. Bapak tidak apa-apa?” tanyaku sedikit sedikit panik. Napasku naik turun tak beraturan.

“Ah, tidak apa-apa. Memangnya ada apa mas kok terburu-buru sekali?” satpam tersebut balik bertanya.

“Saya cuma takut terlambat masuk ke kelas. Kebetulan hari ini saya ada tugas PPL untuk mengajar di sekolah ini.” jelasku seraya mengatur napasku yang masih ngos-ngosan.

“Masuknya masih setenga jam lagi, Mas. Kenapa Mas takut terlambat?”

“Lho bukannya masuknya jam tujuh tepat?” tanyaku heran. Ya, bukankah di mana-mana sekolah itu masuknya jam tujuh pagi? Batinku membenarkan.

Satpam tersebut tersenyum. Aku merasa dia sedang menertawakan kebodohanku.

“Maaf, Mas. Memang kebanyakan sekolah lain masuknya jam tujuh. Tapi khusus untuk sekolah ini masuknya jam setengah delapan. Ya, mungkin ini merupakan salah satu kebijakan sekolah tersendiri.”

Jelas sekarang. Dia memang sedang menertawakan kebodohanku.

“Kalau memang masuknya jam setengah delapan, kenapa Bapak sudah mau menutup pintu gerbangnya?” tanyaku lagi.

“Siapa yang mau menutup pintu gerbang. Justru saya baru mau membukanya. Apa Mas tidak lihat,” dan memang setelah berbicara seperti itu, ia membuka lebar-lebar pintu gerbang.

Aku melongo. Tiada hentinya aku menertawakan diriku sendiri. Alangkah bodohnya aku ini, pikirku. Setengah mati aku bela-belain dengan mengambil paksa sepeda orang, ternyata waktu yang tersisa masih cukup panjang. Lebih menyedihkan lagi aku telah merusak sepeda orang lain. Tanpa sengaja aku telah menabrak bahu jalan. Akibatnya ban depan sepedanya kempes. Buka maksud menyuap, lalu aku memberinya uang sebagai biaya untuk menambal bannya.

Burung-burung murai berkicau ramai di antara pepohonan, merenda pagi penuh keceriaan sambil berjemur di bawah sinar mentari yang hangat. jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan dan para pejalan kaki. Mereka berpacu dengan waktu berusaha mengumpulkan rizki di pagi hari yang cerah dan penuh gairah.

-oOo-

Dering bel tanda istirahat terdengar nyaring. Bersamaan dengan itu semua siswa berhamburan keluar kelas. Masing-masing berpencar kesegala arah, seperti sekelompok pasukan yang sedang mengintervensi suatu daerah. Semua kelas seketika kosong, kecuali satu kelas yang berada di paling pojok koridor. Mereka masih tetap berada di dalam kelas.

“Baiklah anak-anak siapa yang ingin beristirahat!?” kataku sambil mengacungkan tangan.

Semua siswa angkat tangan. Bahkan siswa yang tidak pernah angkat tangan pun seketika itu juga angkat tangan.

“Baiklah, saya pikir semuanya uingin istirahat, bukan?”

Kelas menjadi ramai. Suaranya terdengar seperti sekelompok lebah yang sedang membangun sarangnya.

“Ya iyalah Pak. Semuanya pasti ingin beristirahat!!” jawab salah seorang siswa dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, memang sekarang sudah waktunya istirahat. Guru baru ini pertanyaannya aneh-aneh aja, pikirnya.

“Baiklah, baiklah. Saya harap semuanya tenang dulu,” ucapku mencoba mengendalikan suasana. Aku melihat satu persatu wajah mereka. Sebagian besar mereka tampak lesu, kurang semangat, dan penuh beban. Dan aku ingin membuat wajah mereka kembali ceria tanpa beban psikis.

“Baik,” lanjutnya, “Saya akan mengijinkan kalian beristirahat asalkan kalian bisa menjawab satu pertanyaan tebakan dari saya,” kelas kembali riuh. Tapi Aku tidak mempedulikan hal itu. “Oke, ini hanya sekedar permainan. Pertanyaannya adalah, kenapa kalau bel berbunyi semua siswa keluar kelas? Siapa yang bisa menjawab saya kasih hadiah!”

Hampir semua anak mengacungkan tangan. Mereka berebut saling menjawab. Aku mencoba menenangkan mereka. Satu persatu aku mempersilahkan mereka menjawabnya. Namun dari sekian banyak jawaban tidak ada satupun yang sesuai dengan jawabanku.

“Menyerah?” kataku.

“Apa jawabannya, Pak?” tanya salah seorang siswa penasaran.

“Jawabannya adalah, karena mereka semua mempunyai kaki,” jawabku singkat.

Geeerrr…!!!

Aku tersenyum melihat keceriaan kembali menghiasi wajah mereka. Seperti itulah seharusnya. Wajah-wajah yang penuh semangat dan rasa optimisme tinggi. Sebab kelak merekalah yang akan meneruskan perjuangan bangsa Indonesia tercinta ini. Perjuangan tidak akan pernah berhasil tanpa ada jiwa-jiwa yang penuh semangat. Dan jiwa-jiwa yang penuh semangat itu dapat dilihat dari keceriaan yang tergambar di wajah-wajah mereka.

“Sekian dulu dari saya. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf. Terima kasih dan selamat siang, Wassalamu`alaikum wr. wb,”

“Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab mereka serempak.

Aku menghela napas. Lega, perasaan itulah yang sedang kualami saat ini. Beban yang kupikul terasa lepas begitu saja. Tubuhku menjadi ringan seringan kapas yang terbang tertiup angin. Aku telah berhasil. Ya… Aku berhasil.

Seulas senyum tersungging tipis menghiasi wajahku. Dengan langkah ringan aku keluar kelas mengikuti siswa lainnya. Tugas pertama telah terselesaikan. Sukses pertama mengajar membuatku semakin bersemangat melaksanakan tugas PPL-ku. Dengan semangat itu aku yakin akan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan bagi diriku.

Namun, semangatku tiba-tiba buyar lantaran mendengar bunyi perutku yang keroncongan. Tersadarlah aku bahwa sejak pagi ini perutku belum kemasukan makanan sedikit pun. Lalu setelah mengantarkan buku administrasi di kantor, aku segera mencari kantin. Sayangnya kantin di sekolah sedang tutup. Lalu aku mencari makan di luar dengan meminta ijin terlebih dahulu pada petugas keamanan.

Tidak sulit mencari warung makan. Tidak jauh dari pintu gerbang, tepatnya di depan pintu gerbang seberang jalan, ada sebuah warung makan yang cukup ramai pengunjungnya. Sepertinya warung makan di sini enak, pikirku.

Aku mengambil tempat duduk di pojok depan dekat dengan jendela. Dari tempat itu aku bisa melihat dengan jelas suasana sekolah. Sehingga bila bel masuk aku akan segera mengetahuinya dengan mudah.

Dalam sekejap makanan yang kupesan sudah berada dihadapanku. Benar-benar sesuai dengan namanya “Warung makan cepat saji”. Sambil menikmati makananku, yang ternyata memang enak sesuai selera lidahku, pandanganku berkeliling seputar ruangan. Aku ingin mengetahui lebih detil kondisi warung makan itu.

Hingga pada sebuah sudut ruangan pandanganku berhenti. Aku mencoba memfokuskan penglihatanku terhadap seseorang. Sepertinya aku mengenalnya. Teman lamakah?

Ingatanku kembali ke masa lalu, mencoba mengingat kembali seseorang yang memiliki frame yang sama dengan yang baru saja aku lihat. Aku mengacak-acak kembali memori di otakku, dan menelitinya dengan seksama file-file yang dianggap cocok. Dan… Ketemu…!!! Aku menemukan sebuah bingkai yang mirip dengan apa yang baru saja di tangkap indera penglihatanku.

Tapi, aku ragu…. aku tidak yakin dengan perasaanku. Sesuatu memang terlihat sama dengannya. Namun, ada satu hal yang membedakannya, dan itu sangat penting bagiku ketika mengenalnya. Sebab itu menjadi ciri khas yang selalu dimilikinya. Dan ciri khas itu tidak dimiliki oleh orang yang sedang duduk di sudut ruangan itu. Seorang perempuan dengan rambut hitam, lurus, dan terurai, dengan postur tubuhnya hampir sama, atau bahkan sama dengan temanku dulu.

Tidak… Bukan! dia bukan temanku!! Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri. Dalam hati ada rasa tidak terima jika perempuan yang sedang duduk dengan laki-laki di hadapannya adalah temanku.

Aku terus memperhatikan mereka berdua. Rasa penasaran memaksaku terus mengintainya. Sayangnya wajah perempuan itu tidak menghadap ke arahku. Tapi jika dilihat dari samping, wajahnya hampir sama dengan temanku dulu, gadis yang selalu berjilbab anggun yang telah mencuri hatiku.

Ataukah memang orang yang sama?

Tidak!! Tidak mungkin!!!

Aku kenal betul siapa temanku. Dia tidak mungkin akan melepas jilbabnya di depan umum, apalagi saat bersama laki-laki lain. Tapi, mataku tidak dapat tertipu. Perempuan yang kulihat sekarang memang sama dengan temanku dulu. Hanya saja kini ia tidak memakai jilbab.

Tiba-tiba aku beristighfar dalam hati. Aku teringat bukankah temanku itu sedang ke luar negeri? Kenapa aku bisa berprasangka buruk terhadapnya. Sudah tentu perempuan yang sedang duduk di sudut ruangan itu bukan temanku. Mungkin hanya wajahnya yang hampir sama. Lagi pula ada sedikit perbedaan diantara keduanya.

Bukan dia bukan temanku, pikirku. Aku kembali merasa lega dan yakin betul kalau dia bukanlah temanku yang aku maksud. Terlalu naif jika menyamakan temanku dengannya. Keduanya berbeda jauh 180 derajat.

Sudahlah tidak baik berlama-lama menggunjingi orang. Lebih baik aku segera keluar dari sini.

“Berapa Mbak?” tanyaku ketika berada di depan kasir.

“Lima ribu Mas,” jawab Mbaknya ramah.

Aku mengeluarkan uang lima ribuan dan memberikannya melalui lubang kaca.

“Terima kasiih,”

“Sama-sama Mbak,”

Ketika hendak keluar, seseorang menepuk pundakku.

“Eh, Din!? Apa kabar?” suara lembut seorang perempuan menyapaku ketika aku membalikkan badan.

Aku mengenal jelas suara itu. Dan kini aku dapat melihat dengan jelas wajah perempuan yang tadi membelakangiku. Memoriku dengan cepat menemukan file yang tersimpan sudah cukup lama. Dan ketika cocok dengan wajah yang sedang dihadapanku, seketika itu pula tubuhku terhuyung. Pandanganku perlahan kabur, dan semuanya gelap. Aku tak sadarkan diri….

Tabrak Lari

TABRAK LARI

Dewi jatuh tersungkur tatkala sebuah sepeda motor besar berwarna hitam menyerempetnya dari arah belakang. Ia cukup beruntung karena luka yang dialaminya tidak begitu parah, hanya luka tergores pada bagian lengan kanannya. Namun lebih tepat lagi kalau kecelakaan itu dikatakan sial baginya. Pasalnya ia jatuh ditengah keramaian dan dengan muka belepotan debu sehingga banyak orang melihatnya. Lebih sialnya lagi, pengendara yang menabraknya itu sama sekali tidak menghentikan sepeda motornya. Ia terus menancap gas seolah tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun.

Dengan susah payah Dewi bangkit dibantu Widia. Dewi menepuk-nepuk debu yang menempel di bajunya. Seketika itu pakaian yang dikenakan Dewi menjadi kotor dan berantakan. Baju putih -gaun lebih tepatnya- yang ia kenakan berubah menjadi coklat muda karena terkena debu jalanan yang cukup tebal. Gaun yang seharunya dihiasi dengan manik-manik berkerlap-kerlip justru malah menjadi gaun bermandikan lumpur.

Sementara itu, kakinya terkilir ketika terjatuh tadi. Tatkala berjalan untuk menepi, ia berjingkrak-jingkrak seraya menenteng sepatunya yang juga haknya patah. Wajahnya yang nyengir menahan sakit lebih terlihat seperti nenek sihir yang sedang murka dan bersiap-siap mengutuk siapa saja.

Muka Dewi seketika berubah merah padam karena menahan amarah. Pada siapa lagi kalau bukan pengendara yang brengsek itu. Bukan main jengkelnya Dewi. Gaun indah yang baru saja dibelinya kemarin, kini kotor belepotan debu. Semestinya gaun itu akan dipakainya pada sebuah reuni. Ia mencoba tampil semaksimal mungkin dengan gaun itu karena baginya reuni itu sangat penting tentunya. Sudah lama sekali ia menanti saat-saat seperti ini, bertemu dengan teman-teman lamanya. Sudah tiga tahun lebih ia tidak bertemu dengan teman-temannya. Keinginan untuk bertemu dan berbagi cerita dengan sahabat lamanya begitu membuncah di dadanya.

Dan pada hari itu, di saat-saat keinginannya akan segera terwujud, seorang pengendara brengsek –gelar yang baru saja diberikan Dewi- dan entah dari mana asal muasalnya, tanpa permisi terlebih dahulu, tiba-tiba saja nyelonong dihadapannya dan menggilas segala rencananya.

Ingin rasanya Dewi memaki habis-habisan pengendara tersebut, kalau perlu dibawakan pentungan supaya benar-benar kapok. Sayangnya ia tidak bisa melakukannya. Pengendara tersebut terlebih dulu kabur sebelum Dewi menyemprotnya dan menghadiahinya sebuah bintang besar di atas kepalanya. Ia hanya bisa mengingat plat nomor sepeda motor tersebut sebelum menghilang dibalik tikungan. Akan aku kejar kemanapu kau pergi, bersiap-siaplah!! Ancamnya.

Saking marahnya, Dewi juga tak lupa menyumpahi pengendara yang tak tahu sopan santun itu. Ia mengutuk pengendara yang tidak diketahui asal usulnya itu supaya celaka. Jatuh, tertabrak motor, mobil, atau masuk jurang. Kalau perlu sampai mati sekalian, geramnya.

Ia juga menyumpahi semoga selamanya tidak akan pernah memiliki pacar dan tidak ada seorang perempuan pun yang mau dengannya. Siapa yang mau dengan lelaki yang kurang ajar seperti dia. Tidak tahukah bahwa perempuan itu ibarat seorang ibu. Jika kurang ajar pada ibu maka nasibnya tidak akan jauh beda dengan Malin Kundang, yang hanya dengan abra kadabra langsung menjadi batu. Pikiran Dewi ngelantur kemana-mana.

Sebenarnya bukan sepenuhnya salah pengendara itu, sebab ia sendiri juga salah karena sebelum menyeberang tidak melihat situasi jalan terlebih dahulu. Namun Dewi tidak mau mengakuinya kesalahannya itu, seperti kata pepatah kuman diseberang lautan tampak sementara gajah dipelupuk mata tidak tampak. Kemarahannya membuat kesalahan sendiri dilupakan dan si pengendara itulah yang dijadikan sasaran kambing hitamnya.

Widia hanya tersenyum melihat kemarahan Dewi. Meskipun Dewi tidak mengatakan apa-apa pada Widia, tetapi Widia tahu hal itu dari sorot matanya yang tajam. Seakan-akan Widia melihat ada kilatan api yang membara dikelopak matanya. Widia tidak merasa khawatir dengannya. Lagi pula tidak ada yang bisa dilakukan untuk membalas pengendara itu. Widia yakin kemarahan temannya itu akan segera mereda.

Sebenarnya Widia yang bersama Dewi juga nyaris tertabrak. Hanya saja Widia lebih beruntung. Ia segera tahu ketika mengetahui ada sepeda motor yang sedang meluncur kearahnya sehingga dirinya bisa menghindar.

”Aduh...!!” rintih Dewi mulai merasakan sakitnya, pertanda juga bahwa kemarahannya mulai mereda.

Widia segera menolong sahabatnya itu dan mengobati lukanya dengan parasetamol serta plester yang selalu ia bawa pada kotak P3K mungil di dalam tasnya. Masih dengan raut muka kesal Dewi membersihkan bajunya yang kotor seraya mulutnya mulai menceracau memaki pengendara itu.

”Dasar pengendara ugal-ugalan, tak sumpahin ketabrak mobil baru tau rasa!!” umpat Dewi penuh emosi. Kali ini ia mengatakannya dengan lantang. Mungkin tadi ia masih bisa mengendalikan emosinya.

”Eeehh...!! Sudah!! Sudah!! Jangan mendoakan kejelekan pada orang lain, tidak baik!! Bisa kualat!!” ujar Widia ngeles. Iba juga ia melihat Dewi yang merintih kesakitan, tetapi sebenarnya ia lebih ingin tertawa tatkala melihat muka Dewi yang cemberut mirip ikan badut. Namun ia menahannya karena tidak mau menyinggung perasaan sahabatnya.

”Habisnya aku benar-benar kesal pada dia!! Gara-gara dia gaun yang sengaja aku beli untuk acara reuni menjadi kotor, tuh lihat! Padahal gaun ini aku beli dengan tabunganku sendiri. Hu.. hu..” Dewi mulai terisak.

”Ya tapi kan bukan sepenuhnya kesalahan dia. Lagian kamu juga sih tidak melihat-lihat dulu sebelum menyeberang. Untung saja kamu tidak sampai tertabrak.”

Dewi cuma bisa tersedu mendengar penuturan Widia. Ia tidak menanggapi ucapan Widia. Dalam hati ia membenarkan perkataannya. Namun ia tidak mau begitu saja memaafkan pengendara ugal-ugalan itu. Ia juga patut disalahkan, pikir Dewi.

”Sudah, jangan cemberut terus dong!!” ledek Widia seraya mencubit pipi Dewi dengan genit. Ia mencoba menghilangkan kekesalan sahabatnya itu. Namun Dewi tidak menanggapi gurauannya. Ia malah menyeringai karena cubitannya terlalu keras. Terus terang ia masih kesal pada pengendara tersebut. Ia masih saja uring-uringan karena tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada tersangka.

“Sudahlah tuan putri, jangan marah terus. Sebaiknya sekarang tuan putri segera pulang dan lekas-lekas ganti baju soalnya ....” belum selesai Widia ngomong, Dewi sudah terlebih dahulu menarik tangan Widia pulang. jalannya begitu cepat, ia lupa dengan kakinya yang keseleo. Ia juga lupa dengan tangannya yang masih terus mengeluarkan darah.

-oOo-

Setengah jam kemudian mereka berdua telah kembali lagi ke tempat semula di mana insiden kecl itu terjadi. Kali ini Dewi lebih berhati-hati ketika mau menyeberang. Mereka menunggu bis yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan. Sementara itu Dewi telah mengganti pakaiannya dengan yang baru.

“Sudahlah!!” tukas Widia ketika wajah Dewi masih saja dilipat, “Jangan terlalu dipikirkan. Senyum dong senyum. Nah begitu kan lebih cantik.” Widia senang melihat Dewi bisa tersenyum lagi walaupun sebenarnya senyumnya itu hanyalah dibuat-buat.

Bukan Dewi namanya kalau melupakan begitu saja kesalahan orang lain. Apalagi jika sampai ia sendiri merasa dirugikan. Kalau dibiarkan saja lama-lama ia akan semakin bertindak sewenang-wenang, tidak hanya pada dirinya saja tetapi juga orang lain. Harus ada yang berani memperingatkannya supaya tahu bahwa seseorang tidak bisa berbuat seenaknya sendiri di atas bumi ini. Sebab bumi ini adalah milik bersama, tidak ada seorang pun yang berhak atas bumi ini. Dan suatu kesalahan jika dibiarkan saja berlarut-larut akan menimbulkan suatu sistem error yang dapat merusak keseimbangan alam. Lagi-lagi pikirannya ngelantur.

“Eh bisnya udah datang tuh!!” suara Widia memecah lamunannya. Sebuah bis berwarna biru tua berhenti tepat di depan mereka. Dewi dan Widia segera naik. Bis kembali melaju perlahan menyusuri panasnya aspal jalanan.

Tak berapa lama mereka pun sudah tiba di tempat tujuan. Bis berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah gedung pertemuan. Mereka datang terlambat dan sudah diperkirakan sebelumnya. Acara reuni telah dimulai sepuluh menit yang lalu. Ketika masuk, mereka berdua disambut meriah oleh teman-temannya. Sorak sorai dengan nada mengejek serempak mereka tujukan pada mereka berdua.

“Huuuu...!!!!”

Ada juga yang membunyikannya seperti lolongan serigala.

“Huuuu...!!! Hu..! Hu..! Hauuu....!!!!”

“Maaf ya teman-teman, kami terlambat..!! Maaf kami terlambat!! Maaf ya...” Berkali-kali Dewi dan Widia meminta maaf pada setiap orang yang menatap mereka berdua. Bukan main malunya mereka.

“Kemana saja Dew, nguras kolam renang dulu. Atau bagi-bagi sembako?” ledek salah seorang temannya. Dewi hanya tersenyum kecut. Jengkel juga ia dikatakan seperti itu. Enggak lihat apa aku habis kecelakaan. Dasar tak tahu diri, tertawa diatas penderitaan orang lain. Widia menjawil tangan Dewi, ia tahu apa yang sedang dipikirkan anak satu ini.

“Ssst, cuekin aja. Biarpun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,”

“He.. he.. “ Dewi tersenyum kecil mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia tahu siapa yang disebut anjing itu. Tidak jauh-jauh amat bedanya, pikirnya. He.. he..

Akhirnya kekesalan Dewi terobati di tempat itu. Ia bisa melupakan semua kejadian buruk yang baru saja dialami. Senyum keceriaan selalu terpancar di wajahnya. Ia begitu merasa bahagia, lebih-lebih ketika menemukan orang yang selama ini di carinya. Sebelumnya sempat ia terdiam terpaku tatkala melihatnya. Ya, dia adalah Dhika, kaka kelasnya yang juga teman akrabnya.

“Hai, Apa kabar Dew, Wid?” sapa Dhika dengan senyum yang masih seperti dulu. Ramah dan menggoda.

“Mmm... mm.. Bbb.. Bb.. baik kak!!” jawab Dewi gagap. Sebuah jawaban yang singkat, padat, namun kurang kreatif. Terlalu plagiat! Namun segera ia bisa mengendalikan dirinya dan membalas uluran tangan Dhika. Ia hanya tidak menyangka akan bertemu secepat itu.

“Kamu Wid?”

“Baik juga kak.” Jawab Widia tak kalah ramah dan juga tenang.

“Kalian dari dulu masih sama ya, lengket terus.”

“Tapi nggak kayak perangko kan?”

“Hmm.. Kamu juga tidak berubah Dew, paling pandai kalau bergurau.”

Dewi merona mendapat pujian itu. Namun ia berusaha menutup-nutupinya.

Dewi merasa senang sekali dengan diadakannya acara ini. Acara reuni antar angkatan ini merupakan inisiatifnya sebagai anggota OSIS. Kebetulan Widia adalah mantan ketua OSIS, jadi tidak begitu repot-repot ia menyampaikan usulnya. Dan tanpa disangkanya acara itu disetujui oleh Widia. Setelah mengalami proses panjang, akhirnya terlaksanalah acara ini.

“Eh, oya.. aku lupa. Ada sesuatu yang harus aku urus. Aku pergi dulu ya Dew.” Tutur Widia sambil berlalu.

”Aku ikut!!”

“Jangan Ini tugas panitia. Kamu tidak diijinkan ikut. Kamu di sini aja sama kak Dhika. Nanti aku segera kembali.” tak lama kemudian Widia sudah menghilang di antara kerumunan.

Sepeninggal Widia, Dewi menjadi salah tingkah. Ia merasa serba salah, tak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba saja mulutnya seperti dikunci. Ia lupa bagaimana harus memulai percakapan. Hari itu Dewi terlihat seperti orang tolol di hadapan Dhika. Keringat dingin seolah membanjiri seluruh tubuhnya.

Mengetahui itu, Dhika tersenyum. Untung saja dia bukan tipe orang yang suka menertawakan orang lain. Jadi ketawanya hanya dipendamnya dalam hati.

“Ehm... aku ingin mengatakan sesuatu padamu boleh nggak?” kata Dhika memulai percakapan.

“Oh iya, boleh saja.” Dewi merasa lega.

“Kamu masih ingat nggak ketika kita pura-pura pacaran dulu?”

“Mmmm.... Masih waktu itu kamu kan yang mempunyai ide seperti itu ketika gara-gara harus membawa pasangan saat menghadiri hari valentine?”

“Iya benar. Sekarang aku menginginkan kamu untuk mau menjadi pacarku lagi, tetapi kali ini pacar beneran. Maukah kau menjadi pacarku.”

Melambung hati Dewi lantaran mendengar ucapan dari Dhika. Kakinya serasa sudah tidak lagi menginjak tanah. Ia melayang-layang tinggi di angkasa, terbang bersama burung-burung melintasi awan yang putih berarak. Sudah lama ia menanti kata-kata itu. Dan kini telah terucap pada seseorang yang tepat dan ditujukan padanya. Dengan sedikit basa-basi malu-malu kucing Dewi menerima Dhika sebagai pacarnya.

Akhirnya Dewi menemukan Cinta pertaamnya di tempat reuni tersebut. Dan dia begitu bahagia karena selama ini sang kekasih yang menjadi pujaannya ternyata juga mencintainya. Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya Dewi kala itu. Dan selama acara tersebut Dewi sselalu tersenyum. Ia sama sekali lupa pada kejadian yang menimpanya siang tadi. Perasaan jengkel dan jutek yang ia tunjukkan pada temannya, Widia sama sekali berbeda dengan perasaannya saat ini. Wajah yang tadinya mengerikan seperti setan bertanduk dan berekor panjang kini menjelma menjadi sosok bidadri yang murah senyum. Lihatlah betapa cinta bisa mengubah segalanya.

Usai reuni, Dhika, sang pujaan hatinya mengajaknya pulang bersama.

“Kita pulang naik apa?” Tanya Dewi penasaran.

“Naik motor.” Jawab Dhika singkat.

Wow!! Nai motor!! Pekik Dewi dalam hatinya. Ia jadi teringat sebuah film yang mengisahkan tentang cinta remaja yang diputar pada sebuah TV swasta. Dalam film itu sang kekasih mengantarkan pulang perempuannya dengan motor besarnya. Dewi masih teringat betul kelanjutan film tersebut. Yag jelas film tersebut sungguh romantis. Dan ia mngin mengalaminya. Ia telah membayangakan saat Dhika memboncengnya dan mengantarkannya sampai tujuan. Khayalannya terbang tinggi melampaui awan yang paling tinggi.

”Kamu tunggu di sini, aku mau mengambil motorku diparkiran.”

Dewi hanya mengangguk. Sementara Widia sudah disuruhnya untuk pulang terlebih dulu naik angkot sebagaimana awalnya mereka datang ke acara tersebut.

Angan-angan Dewi masih melambung tinggi hampir melampaui batas ketidak warasannya. Setiap waktu ia selalu tersenyum sendiri. barangkali orang lain yang melihatnya akan menganggapnya sudah gila.

Dewi kaget bukan main tatkala melihat motor yang dibawa Dhika. Lebh terkejut lagi ketika ia lihat plat nomornya, S 1494 N. Pelat nomor yang pengendaranya ia sumpah-sumpahi, plat nomor yang jika ketemu akan menghajarnya habis-habisan, kini telah berada didepannya dengan senyum yang begitu menggoda. Tidak lain dan tidak bukan adalah Dhika, sang pengendara misterius itu.

Seketika itu pula angan-angan Dewi jatuh berdebum ke bumi, jatuh dan terus terperosok kedalam jurang kata-katanya yang berduri siang tadi. Sakit sekali rasanya sehingga membuatnya tersadar dari keterbengongannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah dialaminya.