Showing posts with label Pengantar Studi Islam. Show all posts
Showing posts with label Pengantar Studi Islam. Show all posts

20 July, 2014

Pemahaman Studi Islam di Indonesia



Pada zaman dahulu, kondisi keberagaman studi Islam di Indonesia kurang dipahami sebagai seperangkat paradigma moral dan etika. Keberagaman studi Islam di Indonesia pada dasarnya bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Namun kenyataannya pada saat ini malah membuat manusia khususnya umat Islam menjadi terpecah belah dan saling berdiri sendiri.
Hal tersebut dipengaruhi oleh cara pandang masyarakat Indonesia yang cenderung masih menampilkan kondisi keberagaman yang lebih meningkatkan bentuk dari pada isi agama itu sendiri.[1] Hal ini dibuktikan dengan adanya asumsi yang mengejutkan bahwa negara Indonesia terkenal dengan negara mayoritas Islam ternyata juga menyandang sebagai negara korup terbesar di dunia.
Dari gambaran umat Islam Indonesia di atas, dapat diketahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat Islam itu sendiri.
Untuk dapat memahami dan menghayati agama Islam sepenuhnya maka diperlukan suatu metode pemahaman studi Islam yang tepat. Dengan begitu studi Islam diharapkan mampu melahirkan suatu masyarakat yang lebih mementingkan isi daripada bentuk. Dan juga siap hidup toleran, baik itu intern maupun ekstern dalam wacana pluralitas agama sehingga tidak melahirkan muslim ekstreem yang membalas kekerasan agama dengan agama pula.[2]
Oleh karena itu penggunaan metodologi studi Islam di Indonesia yang memiliki keberagaman agama sangatlah penting agar tidak terjadi permasalahan baik itu intern umat beragama maupun antar umat beragama.

A.    Signifikasi Studi Islam
Agama Islam di Indonesia merupakan agama mayoritas, agama yang memiliki budi pekerti luhur. Namun ironisnya banyak bentuk kejahatan yang para pelakunya adalah orang Islam. Tidak tanggung-tanggung, kejahatan yang mereka lakukan adalah kejahatan kelas kakap. Misalnya terorisme, korupsi, mafia pajak, mafia peradilan, dan lain-lain. mungkin jika ditanya apakah mereka sholat? Jawabannya pasti mereka sholat. Apakah mereka beriman? Tentu juga mereka beriman. Hanya saja yang menjadi permasalahannya adalah mereka belum memahami Islam sepenuhnya. Nah, untuk meluruskan hal tersebut di atas maka dibutuhkan signifikasi tentang studi Islam.
Jadi signifikasi studi Islam adalah mengubah pemahaman dan penghayatan ke-Islaman masyarakat muslim di Indonesia secara khusus dan masyarakat beragama pada umumnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat muslim di Indonesia masih belum memahami secara penuh tentang Islam. Salah satunya ialah faktor Islam keturunan, yang artinya seseorang memeluk agama Islam itu bukan dari hasil pencariannya sendiri, tetapi hanya secara kebetulan orang tuanya memeluk Islam sehingga otomatis juga beragama Islam, dan kemungkinan tidak dipahami lebih dalam mengapa ia masuk Islam.
Faktor yang menyebabkan kurangnya pemahaman dan penghayatan ke-Islaman masyarakat muslim Indonesia adalah minimnya pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang studi Islam. Oleh kerena itu banyak orang Islam yang pemahamannya tentang Islam mudah diombang-ambing oleh golongan non muslim. Bahkan ada yang disalahkan pemahamannya/mengurangi isi yang terkandung dalam ajaran Islam.
Memang tidaklah mudah mengubah pemahaman dan penghayatan ke-Islaman masyarakat muslim Indonesia yang sudah mengakar di dalam tubuh masing-masing individu. Akan tetapi tugas kita sebagai sebagai muslim sejati yang memiliki pengetahuan lebih tentang Islam, berkewajiban untuk meluruskannya demi terciptanya kehidupan muslim yang tidak hanya ikut-ikutan saja, tetapi setidaknya memiliki memiliki pedoman yang kokoh tentang Islam agar tidak mudah terprovokasi oleh oknum/golongan yang tidak bertanggung jawab serta selalu berpegang teguh pada Islam seiring dengan kemajuan zaman.
Islam adalah agama yang benar-benar sebagai pedoman, sampai kapanpun meskipun kemajuan berkembang pesat dan mengubah kondisi zaman. Kadang orang mencampur-adukkan antara kebenaran dan kemajuan, sehingga pandangannya tentang kebenaran terpengaruh oleh kemajuan-kemajuan yang disaksikannya. Kebenaran itu tidak bertambah (non cumulative) dan kemajuan itu bertambah (cumulative).[3] Artinya kebenaran itu tetap sampai kapanpun, tidak mengalami perkembangan. Sedangkan kemajuan selalu berkembang dari waktu kewaktu.

B.     Kegunaan Metodologi
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini, fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam di Indonesia masih ditandai oleh keadaan amat variatif. Kondisi pemahaman ke-Islaman serupa ini barangkali terjadi pula di bagian negara lain. Tidak diketahui secara pasti apakah kondisi demikian itu merupakan suatu hal yang alami yang harus diterima sebagai suatu kenyataan untuk diambil hikmahnya, ataukah perlu adanya standar umum yang perlu diterapkan dan diberlakukan kepada berbagai paham keagamaan yang variatif itu, sehingga walaupun keadaannya amat bervariasi tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunah, serta sejalan dengan data-data historis yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya.
Sampai saat ini, pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat sebagian besar masih bercorak parsial dan belum komprehensif. Namun demikian pemahaman Islam tersebut jelas tidak lantas menjadikan yang bersangkutan keluar dari Islam. Lagi pula dapat dimaklumi karena hal tersebut juga terjadi karena akibat dari proses pengajaran Islam yang belum tersusun secara sistematik dan belum disampaikan menurut prinsip, pendekatan, dan metode yang direncanakan dengan baik.
Kaitannya dengan hal tersebut Taufik Abdullah, yang mengutip dari Mukti Ali, mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu.[4] Mukti Ali juga mengatakan bahwa yang menentukan dan membawa stagnasi dan masa kebodohan atau kemajuan bukanlah karena ada atau tidak adanya orang-orang yang jenius, melainkan karena metode penelitian dan cara melihat sesuatu.[5]
Metode yang tepat adalah masalah pertama yang harus diusahakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kewajiban pertama bagi setiap peneliti adalah memilih metode yang paling tepat untuk riset dan penelitiannya. Selain itu, penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang mengembangkan ilmu yang dimilikinya, atau dengan kata lain bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan dibidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat berkembang.

C.     Metode Memahami Islam
Ada berbagai cara dalam memahami Islam, salah satunya adalah dengan mengenal Allah dan membandingkannya dengan sesembahan agama lain. Cara lainnya adalah dengan mempelajari Al Qur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi lainnya.[6] Seluruh cara yang ditawarkan Ali Syari’ah itu pada intinya adalah metode perbandingan (komparasi). Melalui metode tersebut dapat diketahui kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada sesuatu yang dibandingkan itu.
Selain melalui pendekatan komparasi, Ali Syari’ah juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Dia mengajak pada seluruh intelektual muslim dengan disiplin ilmu yang dimilikinya masing-masing agar digunakan untuk memahami ajaran Islam dengan berpedoman pada Al Qur’an.
Selanjutnya ada pula metode pemahaman Islam secara menyeluruh yang dikemukakan Nasruddin Razak. Cara ini ditempuh dalam upaya menghindari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah. Nasruddin mengatakan ada empat cara untuk memahami Islam secara benar sebagai berikut.
Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli yaitu Al Qur’an dan Sunah Rosululloh SAW. Kekeliruan memahami Islam bisa disebabkan karena orang hanya mengenalinya dari sebagian ulama yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan yang bulat tidak sebagiab saja. Memahami Islam secara parsial akan berbahaya, menimbulkan sikap skeptis, bimbang, dan penuh keraguan.
Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum Zu’ama dan sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik.
Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologi yang ada di dalam Al Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat.
Cara keempat tersebut akhir-akhir ini sangat diperlukan oleh ajaran Islam itu sendiri. Namun pendekatan yang bersifat ilmiah akademis saja tidaklah cukup. Dalam hubungan ini Mukti Ali menyatakan bahwa selamai ini pendekatan terhadap agama islam masih sangat pincang. Berkenaan dengan ini Mukti Ali menyatakan bahwa pendekatan scientific-cumsuigeneris harus diterapkan, pendekatan ilmuah cum doktriner harus dipergunakan, inilah yang dimaksud dengan metode sintesis.[7]
Metode lain untuk memahami Islam adalah metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap obyektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Metode ini dapat digunakan untuk memahami agama Islam. Ciri-ciri agama dapat diidentifikasi dari lima aspek yaitu, ketuhanan, kenabian, kitab suci, keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang didakwahinya, serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.[8]



[1] Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) hal. ...
[2] Ibid., hal. ...
[3] Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu (Yogyakarta: Teraju, 2004) hal. ...
[4] Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Pengantar Metodologi Penelitian Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990) hal. 44
[5] Sayyed Hossein Nasr, Menjelajah Dunia Modern, Terj. 1 Hasti Tarekat, dari judul asli A Young Moslem’s Guide in the Modern World (Bandung: Mizan, 1995) hal. 46
[6] Ali Syari’ah, Tentang Sosiologi Islam, Terj. Saiyulah Mahyuddin, dari judul asli On The Sociology of Islam (Yogyakarta: Anands, 1982) hal. 72
[7] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1977) hal. 43

Pendekatan Ilmu-ilmu Humaniora dalam Studi Islam


Berbicara mengenai ilmu humaniora maka kita akan berkutat langsung dengan diri manusia sebagai sumber sasaran, karena humaniora itu sendiri berasal dari kata human yang berarti manusia. Banyak ilmu-ilmu yang mempelajari tentang manusia diantaranya psikologi, antropologi, dan sosiologi.
A.    Pengertian
Pada dasarnya ilmu humaniora adalah sebuah ilmu yang menerangkan/mempelajari tentang sosial, tingkah laku manusia, lingkungan hidup, dan kebudayaan-kebudayaan bangsa.

B.     Cabang-cabang Ilmu Humaniora
Beberapa cabang dari ilmu humaniora yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi.
1.      Psikologi
Menurut asal katanya psikologi berasal dari kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti “ilmu”.[1] Jadi secara etimologis (bahasa) psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Dalam konteks studi Islam, ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi Islami yaitu: Mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan Islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan Islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap Islam. 
 Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal pada selama ini bisa saja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan Islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang struktur kepribadian manusia yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi dan kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian tersebut diungkap dalam konsep ruh. 
 Dengan penekanannya pada pengembangan pribadi dan pentingnya pengalaman hidup individu di dunia, tradisi humanistik tergolong unik karena inilah satu-satunya pendekatan psikologi yang cocok dengan gagasan spiritualitas. Walaupun tidak semua pandangan ahli psikologi bersifat spiritual atau religius, walaupun Anda tidak harus menjadi seorang yang religius atau spiritual untuk menerapkan atau menarik manfaat dari psikologi humanistik, namun ada keterkaitan yang kuat antara pendekatan ini dengan keagamaan.
 Berdasarkan penjabaran di atas, psikologi Islam diartikan sebagai perspektif modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dengan Islam. Psikologi adalah disiplin Ilmu yang sekuler dan karenanya memberikan wawasan Islam terhadap konsep psikologi modern adalah suatu cara agar konsep-konsep yang dipakai mengalami filterisasi dan tidak menyesatkan. Salah satu hal dalam psikologi yang berkaitan dengan dunia Islam sebagai berikut dalam Firman Allah (QS 41: 31), “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Ayat ini hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta ini maupun dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang di maksud dengan “sesuatu” tersebut adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan dan berilmu.
 Dalam hal ini bisa kita lihat lebih dalam bahwa manusia memiliki peranan penting dalam Al-Qur’an, kalau diperhatikan lebih cermat, salah satu istilah yang berkenaan dengan manusia yaitu nafs yang disebut ratusan kali, belum lagi al-naas, al basyar, dan al-insaan. Istilah tersebut menunjukkan betapa Alqur’an banyak sekali berbicara tentang manusia. Secara kompleksitas, dan bisa dijadikan lahan kajian, dalam Al-qur’an banyak yang berbicara tentang diri manusia yang berkaitan dengan psikologi seperti, Nafs, Ruh, Aql, Qolb, Fitrah, Akhlak, dan sebagainya. Jiwa atau Nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan keadaan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas. 
 Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Menurut Prof. Zakiyah Daradjat, menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang di anut). Dalam hal ini bisa dikaitkan denga teori humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang positif, manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa yang dia kerjakan.
 Seperti penjabaran di atas, hasil kajan psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehdupan seperti kehidupan, seperti bidang pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaranya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu diharapkan orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dia jadikan model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku (behavior).[2]

2.      Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman. Sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.[3]
Sementara menurut Soerjono Soekanto, sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.[4]
Dalam displin ilmu sosiologi agama, terdapat berbagai logika teoritis (pendekatan) yang dikembangkan sebagai perspektif utama sosiologi yang seringkali digunakan sebagai landasan dalam melihat fenomena keagamaan di masyarakat. Di antara pendekatan itu yaitu: perspektif fungsionalis, pertukaran, interaksionisme simbolik, konflik, teori penyadaran dan ketergantungan. Masing-masing perspektif itu memiliki karakteristik sendiri-sendiri bahkan bisa jadi penggunaan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu fenomena keagamaan akan menghasilkan suatu hasil yang saling bertentangan. Pembahasan berikut ini akan memaparkan bagaimana keempat perspektif tersebut dalam melihat fenomena keagamaan yang terjadi di masyarakat.
3.      Antropologi
Anttropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk masyarakat. Fokus ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani, tradisi-tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dengan pergaulan hidup yang lain. Dilihat dari sudut antropologi, manusia dibagi menjadi dua segi yaitu manusia sebagai makhluk biologi dan manusia sebagai makhluk sosio budaya.

Daftar Pustaka :

Hardi Malcom, dkk., Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga. 1988
Harsoyo, Pengantar Antropologi. Bandung: Bina Cipta. 1967
Soekanto, Soerjono, Memperkenalkan Sosiologi. Jakarta: Rajawali. 1988
  


[1] Hardy Malcom, dkk., Pengantar Ilmu Psikologi, (Jakarta: Erlangga, 1988) hal. ...
[2] Erlan Muliadi, Pendekatan Psikologi Dalam Pengkajian Dan Pemahaman Studi Islam, http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/05/pendekatan-psikologi-dalam-pengkajian.html

Anda mungkin juga ingin membaca :


Nalar Burhani dalam keilmuan



A.    Pengertian Burhani
Dalam bahasa Arab, al-burhan berarti argumen yang jelas (al-hujjah al-bayanah). Dalam perspektif logika (al-mantiq), burhani adalah aktifitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan, yaitu dengan menghubungkan premis tersebut dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti kebenarannya.
Dalam khazanah kosa kata bahasa Arab, secara epistemologis kata al-burhan berarti argumen yang tegas dan jelas. Kata ini kemudian disadur sebagai salah satu terminologi yang dipakai dalam ilmu mantiq untuk menunjukkan arti proses penalaran yang menetapkan benar tidaknya suatu preposisi melalui cara deduksi.

B.     Macam-macam Pembagian Ilmu Rumpun Burhani
1.      Filsafat
Pengertian filsafat terbagi menjadi dua, yaitu dari segi semantik dan dari segi praktis. Dari segi semantik, filsafat adalah perkataan yang berasal dari kata Arab: falsafah yang berasal dari bahasa Yunani, philo dan sophia yaitu cinta dan pengetahuan. Jadi philosophia adalah cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Artinya bahwa setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijak. Orang yang cinta pada pengetahuan disebut philosophet, dalam bahasa Arabnya failasuf.[1]
Sedangkan dari segi praktis, filsafat adalah alam pikiran/berpikir, sehingga berfilsafat dapat diartikan sebagai kegiatan berpikir, namun tidak semua orang yang berpikir itu berarti berfilsafat. Jadi berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh tentang hakekat suatu kebenaran.[2]
Adapun pengertian filsafat menurut beberapa tokoh yaitu:
a.       Plato; filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat untuk mencapai kebenaran asli).
b.      Aristoteles; filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang di dalamnya berisi tentang ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat yang menyelidiki sebab asas segala benda).
c.       Al-Farabi; filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan untuk menyelidiki hakekat yang sebenarnya.
d.      Hasbullah Bakri; filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam tentang ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang dapat dicapai oleh akal manusia.[3]

Manfaat Mempelajari Filsafat
Menurut Harold H. Hilus manfaat mempelajari filsafat adalah untuk membentuk seseorang menjadi bijaksana, karena menurutnya salah satu tujuan filsafat adalah kebijaksanaan.
Manfaat filsafat menurut Dr. Oemar A. Hosein adalah memberikan kepuasan pada keinginan manusia tentang pengetahuan. Sementara menurut Sutan Takdir Alisyahbana adalah memberikan ketenangan dan kemantapan hati, karena menurutnya filsafat selalu mencari kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

2.      Ilmu Kealaman
Ilmu kealaman adalah ilmu yang mempelajari tentang (a) alam semesta, (b) tata surya, dan (c) asal mula kehidupan di bumi.
a.       Alam Semesta
Alam semesta mencakup mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat kecil. Misalnya atom, elektron, sel, dan sebagainya. Sedangkan makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar, contohnya bintang, planet, dan galaksi.
Para ahli astronomi mengatakan bahwa ruang angkasa dan benda-benda langit ada di dalam alam semesta. Manusia sebagai makhluk bertuhan yang berakal itu selalu ingin tahu tentang hal-hal yang diamati di alam semesta ini.[4]
b.      Tata Surya
Tata surya adalah planet-planet yang mengelilingi matahari. Secara kelompok planet di dalam tata surya terbagi menjadi 2 golongan yaitu planet kecil dan planet raksasa. Planet kecil terdiri dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars. Sedangkan planet raksasa terdiri dari Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
c.       Asal mula kehidupan di bumi
Para ahli menganggap bahwa makhluk hidup itu berasal dari makhluk tak hidup. Anggapa ini disebut teri Generatio Spontanea atau teori Abiogenesis. Misalnya kecebong berasal dari lumut, ulat berasal dari bangkai, dan sebagainya.[5]

3.      Ilmu Sosial
Ilmu sosial adalah penerapan metode ilmiah untuk mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia. Cabang-cabang ilmu sosial antara lain, antropologi, budaya, ekonomi, geografi, hukum, komunikasi, linguistik, pendidikan, politik, psikologi, dan sejarah.

4.      Humaniora
Ilmu humaniora adalah sebuah ilmu yang menerangkan (mempelajari) sosial, tingkah laku manusia, lingkungan hidup dan kebudayaan-kebudayaan bangsa. Termasuk ilmu humaniora yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi.

C.     Sistem Pemikiran Burhani
Sistem pemikiran Burhani sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan sistem pemikiran Bayani yang secara priori telah menjadikan realitas kewahyuan (Al Qur’an dan Sunah) yang terkemas dalam wacana bahasa dan agama, sebagai acuan berpijak bagi pemerolehan pengetahuan. Juga berbeda dengan nalar Irfani yang mendasarkan pengetahuan pada direct experience (pengalaman langsung).
Nalar Burhani dimaksudkan untuk menganalisis faktor kausalitas dari tema-tema yang dikajinya dan merumuskan suatu kebenaran, yaitu pengetahuan yang bersifat benar dan meyakinkan atau yang dikenal dalam bahasa Aristoteles “ilmu”. Di sinilah letak keunggulan nalar Burhani. Jika dibandingkan dengan nalar yang lainnya, terdapat kenyataan bahwa nalar Burhani menggunakan silogisme atau penalaran logis dengan menggunakan premis-premis yang benar, sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang benar dan pasti. Oleh karenanya, pembuktian secara demonstratif (Burhani) dipandang sebagai metode pembuktian yang paling ilmiah.
Dalam realitas historis, sistem pemikiran Burhani ini banyak dikembangkan oleh kalangan filosof muslim semisal Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Munculnya sistem epistemik ini terkait erat dengan pengaruh budaya Yunani yang masuk ke dunia Islam.

Daftar Pustaka

Mudhar, Atho, M, Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998
Muslih, Muhammad, Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Belukar. 2004
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press. 1978
Nasution, Khoirudin, Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Academia. 2004
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. 1975



[1] Ahmad Syadili, Mudzakir, Filsafat Umum untuk Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia. 1997) hal. 11
[2] Ibid., hal. 11
[3] Ahmad Syadili dan Mudzakir, Filsafat Umum untuk Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, 1997) hal. 15-16
[4] Abdullah Aly dan Eny Rahma, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hal. 34
[5] Ibid., hal. 47

Anda mungkin juga ingin membaca :


10 June, 2012

Metode Memahami Islam


Indonesia merupakan negara yang plural, kaya akan ragam budaya, yang meliputi bahasa, kesenian, rumah adat, cara berpakaian, serta simbol-simbol budaya lain yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi perkembangan Islam di Indonesia. Sebagai agama pendatang, yang datang sesudah agama Hindu dan Budha, maka Islam berusaha berbaur dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat (akulturasi). Tentu saja penyesuaian tersebut tidak menghilangkan esensi ajaran Islam itu sendiri. Akan tetapi tetap saja menimbulkan wajah Islam yang beraneka ragam, dalam artian antara satu daerah dengan daerah lain memiliki ciri khas ke-Islaman tersendiri.
Adanya perbedaan “wajah” Islam tersebut terkadang menimbulkan sebuah pertanyaan menggelitik yang jika dibiarkan saja bisa jadi menjadi bom waktu perpecahan dalam Islam itu sendiri. Pertanyaan tersebut menyangkut tentang “wajah” Islam yang sebenarnya, yaitu Islam yang menurut Al Qur’an dan Hadits. Islam yang sebenarnya Islam, bukan Islamnya (sebagai contoh) NU ataupun Muhammadiyah sebab pada zaman Rosululloh SAW tidak ada Islam NU dan Muhammadiyah. Dan tidak akan pernah ditanyakan di alam kubur kelak Islam kita NU atau Muhammadiyah. Bahkan kanjeng Nabi SAW sendiri pun tidak mengenal NU dan Muhammadiyah.
Mungkin kita juga dibuat bingung oleh peristiwa-peristiwa yang menimpa umat Islam akhir-akhir ini. Ada beberapa kelompok yang sama-sama mengatasnamakan Islam saling serang satu sama lain. Padahal sama-sama Islam. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengkafirkan saudaranya sendiri. Naudzubillah. Ada juga yang rela mati dengan cara melakukan bom bunuh diri, hanya dengan diiming-imingi surga abadi. Jika ditanya alasannya dalihnya jihad suci. Saya jadi teringat sebuah anekdot yang saya sendiri lupa darimana dapatnya, jd mohon maaf jika tidak saya sebutkan sumbernya.
Ada seorang pemuda bertanya kepada Ustad.
“Pak Ustad, kalau ada orang Islam yang melakukan bom bunuh diri di gereja, nanti ia masuk surga atau neraka.”
Ustad menjawab, “Masuk neraka.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kalau Islam kenapa meninggalnya di gereja. Malaikat pasti akan mengira ia sudah murtad sehingga akan memasukkannya ke dalam neraka.”
Cerita di atas hanyalah sebuah selingan guna menyegarkan pikiran. Yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah bagaimana agar kita bisa memahami Islam yang sebenarnya, bukan Islam sebatas dipermukaan. Berikut beberapa metode yang bisa digunakan dalam memahami Islam:

1.      Metode Pendekatan Komparasi
Pendekatan komparasi adalah mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama-agama lain. Cara lainnya adalah dengan mempelajari kitab Al Qur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi lainnya.[1] Mempelajari agama lain tidaklah dilarang. Justru dengan cara seperti itu akan menambah pengetahuan dan meningkatkan kualitas keimanan kita.

2.      Metode Pemahaman Islam secara menyeluruh
Metode ini dikemukakan oleh Nasruddin Razak, yaitu suatu cara yang ditempuh dalam upaya menghindari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah pula. Untuk memahami Islam secara benar ini terdapat 4 cara:
a.       Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli yaitu Al Qur’an dan As Sunah (hadits) Rosulullah SAW. Kekeliruan memahami Islam karena orang hanya mengenal Islam dari satu sudut pandang atau hanya belajar pada satu ulama yang mungkin terlalu fanatik.
b.      Islam harus dipelajari secara integral, bukan parsial. Artinya Islam dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak setengah-setengah. Memahami Islam secara parsial akan membahayakan, menimbulkan sikap skeptis, bimbang, dan penuh keraguan.
c.       Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, dan sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik.
d.      Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologi yang ada di dalam al Qur’an, baru kemudia dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat.

3.      Pendekatan Tipologi
Pendekatan ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap obyektif, berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Metode ini dapat digunakan untuk memahami agama Islam.

4.      Metode selanjutnya untuk memahami Islam ialah dengan meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad SAW diutus. Misalnya apakah beliau diutus sebagai Nabai tanpa tindakan-tindakan pendahuluan. Apakah ada orang yang mengharapkan akan bangkitnya seorang Nabi, dan lain sebagainya.


[1] Ali Syari’ah, Tentang Sosiologi Islam, Terj. Saiyulah Mahyuddin, dari judul asli On The Sociology of Islam, (Yogyakarta: Anands, 1982), hal. 72

Anda mungkin juga ingin membaca :

- Pendekatan Ilmu Sosial dalam Studi Islam

07 June, 2012

Disiplin Ilmu : Rumpun Irfani


Disiplin ilmu merupakan salah satu pokok bahasan dalam studi Islam yang terbagi dalam tiga rumpun yaitu:
1.      Bayani; meliputi ilmu bahasa, fiqih, ushul fiqh, dan kalam.
2.      Burhani; meliputi filsafat, ilmu kealaman, ilmu sosial, dan humaniora.
3.      Irfani; meliputi tasawuf dan akhlak.
Dalam tulisan kali ini akan dibahas mengenai rumpun Irfani.

A.    Pengertian Irfani
Kata irfani mengandung beberapa pengertian antara ilmu dan ma’rifah. Sedangkan Irfani itu sendiri adalah pendekatan yang bersumber (kasf/ilham). Dari Irfani muncul illuminasi yang membantu mutasawwifun dan ‘arifin dalam mengkaji lebih dalam tentang Irfani itu sendiri. Pendekatan Irfani merupakan suatu pendekatan yang dipergunakan dalam kajian pemikiran Islam. Oleh para mutasawwifun dan ‘arifun untuk mengeluarkan makna batin dari batin laf-laf dan ‘aibran, dan juga merupakan istinbad al ma’rifah al qalbiyah dari Al Qur’an.[1]
Berdasarkan literatur tasawuf, garis besar langkah-langkah penelitian irfaniyah ada tiga yaitu:
1.      Takhliyah, yaitu penelitian mengkosongkan perhatiannya dari makhluk dan memusatkan perhatian kepada tawjih.
2.      Tahliyah, yaitu memperbanyak amal sholeh dan melazimkan hubungan dengan Khaliq.
3.      Tajliyah, yaitu menemukan jawaban bathiniyah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Sedangkan teknik penelitiannya adalah:
1.      Riyadhoh, yaitu rangkaian latihan dan ritus dengan penahapan dan prosedur tertentu.
2.      Thoriqoh, yaitu kehidupan jama’ah yang mengikuti aliran tasawuf yang sama.
3.      Ijazah, yaitu guru memberikan wewenang kepada murid.

B.     Tasawuf
Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebut 5 (lima) istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu:
1.      Al Suffah, yaitu orang yang ikut pindah dengan Nabi SAW dari Mekah ke Madinah.
2.      Saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan sholat jama’ah.
3.      Suffi, yaitu yang berarti “bersih” dan “suci.”
4.      Sophos (bahasa Yunani), yang artinya “hikmah.”
5.      Suf, yaitu kain wol kasar.[2]
Berdasarkan beberapa arti kata segi bahasa di atas dapat disimpulkan bahwa tasawuf dapat diartikan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah SWT dan berpola hidup sederhana mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang lebih mulia di sisi Allah SWT.
Sementara dari segi istilah menurut pada ahli, terdapat tiga sudut pandang untuk mendefinisikan tasawuf, yaitu:
1.      Dilihat dari segi sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah.
2.      Dilihat dari sudut pandang sebagai makhluk yang harus berjuang, tasawuf didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersuber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan, tasawuf didefinisikan sebagai kesadaran fitrah yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.[3]
Ketiga definisi tasawuf tersebut intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri manusia dari pengaruh kehidupan duniawi, selalu dekat dengan Allah sehingga jiwanya bersih dan memancarkan akhlak mulia.
Tasawuf adalah salah satu jalan dari banyaknya jalan yang diberikan Allah dalam Islam guna menunjukkan kemungkinan pelaksanaan kehidupan rohani bagi manusia yang telah berabad-abad mengikuti dan terus mengikuti agama yang diajarkan Al Qur’an.[4]
Sumber utama ajaran tasawuf adalah Al Qur’an dan As Sunnah.

Pokok-pokok ajaran Tasawuf
Dalam pembahasan ini terdapat 3 isi pokok ajaran tasawuf yaitu, tasawuf akhlaki, tasawuf amali, dan tasawuf filsafi.
1.      Tasawuf Akhlaki
Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan manusia untuk dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.[5] Adapun metode-metode yang telah dirumuskan tersebut yaitu:
a.       Takhalli
Takhalli adalah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela baik lahir (anggota badan) maupun batin (hati). Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan dunia.
b.      Tahalli
Tahalli yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir batin, yaitu suatu yang bersifat mutlak atau formal. Misalnya sholat, zakat, puasa, dan lain-lain.
c.       Tajalli
Tajalli berarti hilangnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan, yaitu ketika terlihatnya Nur yang dipancarkan Allah dalam hati seseorang.[6]

2.      Tasawuf Amali
Tasawuf amali yaitu tasawuf yang penekanannya pada amaliah berupa wirid dan amaliah lainnya. Tasawuf ini merupakan lanjutan dari tasawuf akhlak. Ada beberapa istilah praktis yang perlu dijelaskan dan prasarana dalam pelaksanaan ajaran tasawuf sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Adapun beberapa hal tersebut adalah:
a.       Syari’ah; garis-garis yang boleh ditentukan dan termasuk di dalamnya hukum-hukum Islam (halal haram, dan sebagainya).
b.      Toriqoh; artinya tata cara untuk melaksanakan syari’ah yang bertujuan untuk penghambaan diri kepada Allah.
c.       Ma’rifah; artinya pegetahuan dan pengenalan. Dalam istilah sufi ma’rifah adalah pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati (qalb).
d.      Haqiqah/hakikat; artinya inti sesuatu, puncak atau sumber asal-usul dari sesuatu. Menurut sufi haqiqah adalah sebagai aspek lain dari syari’ah lahiriyah yaitu aspek batiniah.[7]

3.      Tasawuf Filsafi
Tasawuf filsafi merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dengan visi rasional. Ciri-ciri umum tasawuf filsafi adalah:
a.       Kesamaran-kesamaran agama, akibatnya banyak ungkapan dan istilah yang dapat dipahami oleh orang yang mendalami tasawuf.
b.      Tidak bisa dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metodenya didasar pada rasa/hati.
c.       Tidak bisa dikategorikan pada tasawuf murni karena ajarannya sering diungkapkan kedalam bahasa filsafat dan cenderung lagi pada pantheisme.[8]
Paduan antar tasawuf dan filsafat dalam ajaran filosofi ini, dengan sendirinya telah membuat ajaran-ajaran di luar Islam. Tetapi ciri khas sebagai tasawuf tetap tidak hilang karena tokoh-tokohnya meski dari latar belakang kebudayaan dan pengetahuan berbeda. Mereka tetap menjaga kemandirian ajaran mereka sehingga begitu gigih mengkompromikan ajaran-ajaran filsafat.

C.     Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa arab, bentuk jamak dari “khuluqun” yang berarti budi pekerti, tingkah laku atau tabiat. Juga berasal dari “khalqun” berarti kejadian yang juga erat kaitannya dengan “khaliq” yang berarti pencipta, demikian juga dengan “makhluqun” yang berarti yang diciptakan.
Menurut Imam Al Ghazali akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).
Manfaat mempelajari ilmu akhlak, yaitu:
1.      Mendapat tempat yang baik di dalam masyarakat.
2.      Akan disenangi orang dalam pergaulan.
3.      Mendapat pertolongan dan kemudahan dalam memperoleh keluhuran, kecukupan, dan sebutan yang baik.
4.      Mendapat perlindungan segala penderitaan dan kesukaran.
5.      Terpelihara dari hukuman yang sifatnya manusia.


[1] Khoirudin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: Academia Tazzafa, 2004) hal. 28
[2] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983) hal. 56
[3] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003) hal. 239
[4] Ibid., hal. 15-18
[6] Roisihan Anwar dan Mukhtar Sholihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2000) hal. 66-70
[7] Asmaran, Pegantar Studi islam Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 1994) hal. 93-94
[8] Ibid., hal. 150

Anda mungkin juga ingin membaca :

- Pendekatan Ilmu Sosial dalam Studi Islam