01 November, 2014

Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan

Oleh : Saijan

PENDAHULUAN
Salah satu permasalahan yang besar diantara berbagai masalah dan kendala yang dihadapi bangsa Indonesia adalah SDM yang tidak berkualitas (Tilaar, 1998). Pendidikan dapat dipastikan memegang peranan kunci di dalam menyiapkan SDM yang berkualitas. Dalam rangka menyiapkan SDM yang berkualitas tersebut tentu dibutuhkan adanya sebuah manajemen yang juga berkualitas.

Manajemen yang baik akan sangat mendukung tercapainya tujuan yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan, tujuan utama yang ingin dicapai adalah mutu pendidikan. Mutu pendidikan harus dibuktikan dengan “nilai jual” para lulusan dan juga dalam semua kompetisi.
Mutu adalah sesuatu yang dinamis, selalu berubah dan berkembang, seiring dengan tuntutan jaman. Oleh karena itu maka para pelaku pendidikan harus terus-menerus mengembangkan diri, tidak boleh berpuas diri. Keberhasilan, perasaan bangga dan kesombongan kadang membuat kita terlena, sementara orang lain selalu berbenah dan berubah. Tiba-tiba kita terkejut ketika ada kenyataan perbandingan performa antar lembaga membuktikan bahwa kita jauh tertinggal dari lembaga lain yang dulu dianggap inferior. Karena terlambat maka susah bagi kita untuk mengejar ketinggalan dan melakukan repositioning. Tidak boleh tidak, maka mau tidak mau kita harus melakukan perubahan.

MANAJEMEN MUTU
Change is the way of live” demikian Colling mengutip metafora John F. Kennedy. Perubahan adalah sesuatu yang harus dilakukan. Perubahan tersebut seharusnya dapat menjamin kepuasan dan kualitas seperti yang diharapkan para pengguna (stakeholders). Perubahan itu menurut Arcaro (1995;38) membutuhkan 5 pilar sebagai berikut:
1.      Customer focus, kepuasan pengguna adalah kunci sukses.
2.      Total involvement, semua unsur peduli terhadap mutu.
3.      Measurement, mutu hendaknya dapat diamati dan terukur.
4.      Commitment, mutu harus diupayakan dengan kesungguhan.
5.      Continuous improvement, penyempurnaan terus menerus.
Sementara itu dalam rangka melakukan perubahan dapat dilakukan upaya-upaya peningkatan mutu melalui “quality trilogi” (Juran, 1994). Dalam pelaksanaan model trilogi kualitas ini hendaknya memperhatikan:
a.       Quality Planning
1.      Mempertemukan “customers” eksternal maupun internal
2.      Menetapkan “needs” dari “customers”
3.      Menetapkan “quality goals and objectives”
b.      Quality Control
1.      Menetapkan prosedur pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian
2.      Memberdayakan semua unsur/komponen
3.      Menerapkan alat pengukuran/penilaian
c.       Quality Improvement
1.      Menetapkan “needs for improvement”
2.      “Organize” kegiatan peningkatan kualitas
3.      Upaya perbaikan sesuai dengan kemampuan dan kondisi
Dalam proses pencapaian peningkatan mutu, diperlukan sebuah target antara “bench marking” dan juga sebuah “relative performance” dimana kita selalu mengevaluasi setiap tahap proses peningkatan mutu, sehingga tidak terjadi sebuah kesalahan fatal dari akhir sebuah proses yang tidak mungkin lagi diperbaiki.

HARAPAN DAN TANTANGAN
Implementasi peningkatan mutu dalam pendidikan merupakan sebuah proses, bukan sesuatu yang dengan sendirinya dapat terjadi, namun membutuhkan sebuah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengukuran, penilaian serta upaya tindak lanjut. Proses ini merupakan kegiatan yang berkelanjutan atau “never ending activities”.
Kegiatan-kegiatan tersebut saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Masing-masing kegiatan membutuhkan pemikiran yang cermat dan kerjasama yang sinergis semua unsur/komponen sekolah sebagai sebuah sistem.
Sistem pendidikan di sekolah merupakan suatu kesatuan yang utuh dari seluruh komponen pendidikan yang menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Adapun tantangan di lapangan yang perlu diperhatikan adalah apa yang sering disebut dengan “input – process – output”.
“Management” merupakan kunci penentu keberhasilan suatu lembaga. Komponen-komponen pendidikan seperti program pendidikan, SDM, sarana, dan biaya sangat ditentukan oleh “the quality of management”.
Dalam praksis pendidikan sekarang ini, dimana biaya pendidikan sangat mahal, tenaga kependidikan tidak memadai, sarana terbatas, program yang tidak berkembang, dan adanya persaingan yang cukup kompetitif merupakan tantangan tersendiri bagi para kepala sekolah/pimpinan/rektor sebagai manajer untuk melakukan peningkatan mutu semua unsur sekaligus pemberdayaannya, yang juga harus disadari oleh semua komponen.

PENUTUP
Proses perubahan dan kegiatan peningkatan mutu tidak selalu dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, dan belum tentu mendapat dukungan. Namun dengan adanya perubahan paradigma pendidikan dimana otonomi diberikan secara luas pada masing-masing pengelola pendidikan, memberikan harapan tersendiri bagi kita untuk dapat mengelola pendidikan secara optimal, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Semoga.

Sumber Referensi

Ø  Rumtini dan Jiyono, Manajemen Berdasarkan Sekolah: Konsep dan kemungkinan pelaksanaannya. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 017 (Jakarta: Balitbang Diknas, 1999)
Ø  Reynolds, Larry, Beyond Total Quality Management (Sheldon Press, 1993)
Ø  Tangyong, Agus F., Pendidikan Nasional dalam Konteks Perubahan (Jakarta: Balitbang Diknas, 2001)
Ø  Tilaar, H.A.R., Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan dalam Perspektif Abad 21 (Magelang: Tera Indonesia, 1998)

Anda mungkin juga ingin membaca :

- Humas Dalam Lembaga Pendidikan
- Humas sebagai Fungsi Manajemen
- Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
- Manajemen Organisasi Sekolah
- Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan
- Manajemen Peserta Didik
- Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
- Manajemen Sarana Pendidikan
- Manajemen Tata Laksana Sekolah
- Pengertian Manajemen Pendidikan

No comments:

Post a Comment